Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Krisis Iklim Makin Genting, Koalisi Aktivis Minta World Bank Hentikan Pendanaan Peternakan Intensif

        Krisis Iklim Makin Genting, Koalisi Aktivis Minta World Bank Hentikan Pendanaan Peternakan Intensif Kredit Foto: Eco Action
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Aksi serentak digelar di 20 negara oleh Act for Farmed Animals (AFFA) bersama koalisi Stop Financing Factory Farming. Di Indonesia, aksi berlangsung di depan kantor World Bank di Jakarta pada Jumat (16/4/2026).

        Dalam aksi tersebut, massa mendesak World Bank untuk menghentikan pendanaan terhadap industri peternakan intensif serta membatalkan rencana peningkatan pendanaan hingga US$9 miliar atau sekitar Rp140 triliun per tahun pada 2030. Para peserta aksi juga menampilkan instalasi visual yang menggambarkan dampak peternakan intensif terhadap hewan ternak.

        Pemimpin kampanye AFFA, Elfha Shavira, menilai kebijakan pendanaan tersebut bertentangan dengan prinsip keberlanjutan. Menurutnya, ekspansi investasi pada industri peternakan intensif berpotensi mempercepat krisis iklim, memperparah kerusakan lingkungan, mengancam keanekaragaman hayati, serta berdampak buruk pada kesehatan masyarakat global.

        “World Bank tidak menjalankan praktik prinsip keberlanjutan yang melindungi planet Bumi dan makhluk hidup lainnya. Dengan memperluas dan meningkatkan investasi pada industri peternakan intensif, sama saja mendanai percepatan krisis iklim, melanggengkan penderitaan yang kejam pada hewan, hilangnya keanekaragaman hayati dan mengancam kesehatan masyarakat secara global,” ujar Elfha.

        Ia menegaskan, pihaknya berharap World Bank segera mengalihkan pendanaan ke sektor yang lebih berkelanjutan dan memperhatikan kesejahteraan hewan.

        Sistem peternakan intensif atau Animal Feeding Operations (AFO) disebut berkontribusi terhadap pencemaran udara, khususnya partikel halus PM2.5 yang berbahaya bagi kesehatan. Dampak polusi ini dinilai tidak merata, di mana kelompok rentan seperti masyarakat adat menjadi pihak yang paling terdampak.

        Selain itu, sekitar 80 persen lahan pertanian global saat ini digunakan untuk industri peternakan, baik untuk penggembalaan maupun produksi pakan. Produksi kedelai menjadi salah satu faktor utama, dengan sekitar 77 persen produksi kedelai dunia digunakan sebagai pakan ternak.

        Kondisi tersebut turut berdampak pada Indonesia. Ketergantungan terhadap impor bungkil kedelai untuk pakan ternak dinilai meningkatkan kerentanan ekonomi nasional, terutama saat terjadi fluktuasi harga global yang berimbas pada kenaikan harga pangan. Di sisi lain, alih fungsi hutan dan lahan untuk ekspansi peternakan juga berpotensi mengancam keanekaragaman hayati.

        Managing Director AFFA, Arie Utami, menambahkan bahwa deforestasi merupakan salah satu penyebab utama krisis iklim. Menurutnya, ekspansi peternakan intensif tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada keadilan sosial, terutama bagi masyarakat adat yang kehilangan ruang hidup.

        Baca Juga: Program MBG Bikin Petani dan Peternak Bergerak, Ini Dampaknya Menurut Menteri Pertanian

        “Investasi sektor perbankan seharusnya diarahkan pada sistem pangan yang berkelanjutan dan berketahanan iklim, seperti pangan nabati berbasis lokal di Indonesia,” ujarnya.

        Sebagai tindak lanjut, AFFA berencana menggelar webinar untuk membahas lebih dalam dampak sistemik peternakan intensif terhadap ekonomi, lingkungan, dan komunitas terdampak. Masyarakat juga diajak untuk mendukung gerakan ini melalui penandatanganan petisi di https://www.sinergiaanimalinternational.org/divestment-campaign.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Saepulloh
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: