Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di jalur pelayaran Selat Hormuz kembali memanas. Merespons blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat (AS) terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak 13 April 2026 lalu, Teheran mengambil langkah balasan dengan menangkap sejumlah kapal komersial asing dan menutup total akses selat tersebut.
Langkah agresif Iran ini menandai pergeseran kebijakan dari bulan sebelumnya, sejak mengumumkan pembatasan pada 4 Maret, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) awalnya hanya menutup selat bagi negara musuh, yakni AS dan Israel.
Negara-negara lain masih diizinkan melintas dengan menerapkan sistem "gerbang tol" (pembayaran biaya transit yang tercatat dibayar menggunakan mata uang Yuan Tiongkok).
Namun, situasi berubah drastis setelah AS memulai blokade angkatan laut pada 13 April, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi telah mencegat 31 kapal terafiliasi dengan Iran.
Militer AS juga menembak dan menyita kapal kontainer berbendera Iran, Touska, di utara Laut Arab, serta menahan sebuah kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Iran di Teluk Benggala. Pentagon menyatakan tindakan ini dilakukan untuk memutus jaringan logistik ilegal yang mendukung Iran.
Sebagai balasan atas blokade AS, Iran memperketat kendalinya. Pada 22 April, IRGC menembaki dan menangkap dua kapal komersial yang hendak keluar dari Teluk melalui Selat Hormuz.
Berdasarkan laporan Reuters, kapal pertama adalah MSC Francesca berbendera Panama yang dicegat menuju Sri Lanka, dan kapal kedua adalah Epaminondas milik Yunani dan berbendera Liberia yang sedang menuju India.
Selain itu, kapal Euphoria berbendera Liberia dan dua kapal niaga berbendera India juga dilaporkan sempat ditembaki oleh Iran karena dianggap beroperasi tanpa izin.
Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, membenarkan pengetatan ini dengan menyatakan bahwa keamanan Selat Hormuz "tidak gratis."
Melalui media sosial X, ia menegaskan bahwa pihak asing tidak bisa membatasi ekspor minyak Iran sambil mengharapkan keamanan gratis bagi kapal mereka sendiri.
Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama perundingan gencatan senjata, Mohammad Bagher Ghalibaf, menambahkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz dan gencatan senjata mustahil terwujud selama AS masih melakukan blokade yang dinilai sebagai pelanggaran nyata.
Ironisnya, di tengah eskalasi militer ini, Iran mencatatkan lonjakan tajam dalam pendapatan ekspor minyaknya yang 80 persennya melewati Selat Hormuz.
Data dari firma intelijen perdagangan Kpler menunjukkan bahwa Iran mengekspor 55,22 juta barel minyak selama periode 15 Maret hingga 14 April. Dengan harga yang tidak pernah turun di bawah USD 90 per barel, Iran meraup sedikitnya USD 4,97 miliar bulan lalu.
Angka ini melonjak 40 persen dibandingkan pendapatan bulanan sebelum perang yang hanya berkisar di angka USD 3,45 miliar.
Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di lembaga think tank International Crisis Group, menyebut insiden penangkapan kapal non-AS/Israel ini sebagai aksi balasan (tit-for-tat) yang disengaja.
"Ini bukan penguasaan strategis, melainkan manuver di ambang batas (brinkmanship), di mana masing-masing pihak menguji batas pemaksaan lawannya," jelas Vaez.
Hal senada diungkapkan oleh Chris Featherstone, ilmuwan politik dari University of York. Ia menganalogikan situasi ini seperti permainan poker berisiko tinggi.
"Dengan menangkap kapal-kapal tersebut, Iran mengembalikan tekanan kepada pemerintahan AS untuk melihat siapa yang akan menyerah lebih dulu," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: