- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Pertamina Ungkap Pemicu Harga B40 Industri Lebih Mahal Dibanding Era B35
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
PT Pertamina Patra Niaga (PPN) membeberkan pemicu utama kenaikan harga biosolar B40 pada sektor industri atau Non-Public Service Obligation (NPSO). Perubahan fundamental pada regulasi harga bahan baku bauran biodiesel (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) serta pemisahan beban ongkos angkut menjadi variabel utama yang mengerek harga di tingkat konsumen industri.
VP Business Development & Subsidiary PPN, Sigit Setiawan, menjelaskan bahwa pada era mandatori B35, harga FAME untuk semua sektor dipatok setara dengan harga solar murni. Namun, seiring transisi ke B40 pada 2025, regulasi menetapkan harga FAME untuk sektor industri dilepas mengikuti harga keekonomian pasar.
"Untuk yang B40 di tahun 2025, secara regulasi memang ada yang berbeda dibandingkan B35. Untuk produk non-PSO (industri), kami harus membeli FAME seharga FAME keekonomian," ujar Sigit di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Sigit menjelaskan, pergeseran skema ini dipicu oleh keterbatasan anggaran pada Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Dengan dana yang ada, pemerintah memprioritaskan penutupan selisih harga untuk sektor subsidi (PSO), sementara sektor industri harus menyerap harga pasar secara penuh.
Berdasarkan data operasional perseroan, total serapan FAME Pertamina pada 2025 mencapai 11,5 juta kiloliter (kL). Secara bulanan, serapan FAME untuk sektor industri (NPSO) mencatatkan tren pertumbuhan, dimulai dari 377 ribu kL pada Januari dan menyentuh puncaknya di angka 494 ribu kL pada Desember 2025.
Baca Juga: Dorong ESG, Pertamina Perkuat Peran Perempuan di Sektor Maritim
Selain variabel harga baku, lonjakan biaya di tingkat industri juga disebabkan oleh kebijakan baru terkait logistik. Pertamina mencatat adanya pemisahan beban ongkos angkut FAME NPSO yang kini sepenuhnya ditanggung oleh Badan Usaha (BU) BBM.
“Ongkos angkut FAME untuk kebutuhan non-PSO kini dibebankan kepada kami secara aktual produk, dan biaya tersebut kami pass-through kepada konsumen industri. Jadi ada dua komponen utama yang mengerek harga: kenaikan harga FAME keekonomian dan biaya logistik,” jelas Sigit.
Tekanan logistik ini diperberat oleh ketimpangan kapasitas produksi antarwilayah. Kapasitas produksi FAME terbesar saat ini terkonsentrasi di wilayah Sumbagut sebesar 6,5 juta kL per tahun. Di sisi lain, wilayah Kalimantan mencatatkan defisit karena permintaan lokal mencapai 5,6 juta kL per tahun, sementara kapasitas produksi regional hanya tersedia 3,8 juta kL per tahun. Ketimpangan ini memaksa adanya pengapalan jarak jauh yang mempertinggi struktur biaya distribusi.
Proyeksi Menuju B50
Menyongsong rencana implementasi B50, Pertamina Patra Niaga mencatat tingkat utilisasi pabrik FAME nasional akan semakin tertekan. Alokasi penyerapan untuk program B40 pada 2026 diperkirakan menyerap 15,6 juta kL atau setara 73% kapasitas pabrik nasional. Jika mandatori ditingkatkan menjadi B50, beban penyerapan akan melonjak hingga 89% dari total kapasitas plant FAME.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Layanan QR Code di Jawa Timur untuk Subsidi Tepat Sasaran
Guna mengantisipasi kenaikan volume tersebut, Pertamina tengah melakukan asesmen intensif di 36 lokasi titik serah FAME yang dikategorikan sebagai Main Terminal untuk proses blending. Sementara itu, 85 End Terminal lainnya disiapkan untuk menerima produk akhir dalam kondisi siap salur.
''Penambahan kapasitas hingga 24 juta kL dibutuhkan untuk mencapai level operasional ideal di angka 80%. Kami terus melakukan pengujian teknis dan asesmen sarana fasilitas agar implementasi bauran energi ini tetap terjaga meski ada konsekuensi biaya yang meningkat di sektor industri,” pungkas Sigit
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: