Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pertamina Sebut Potensi Surplus Solar Imbas B50 Tembus 8,3 Juta KL

Pertamina Sebut Potensi Surplus Solar Imbas B50 Tembus 8,3 Juta KL Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Rencana Pemerintah untuk mengerek mandatori biodiesel ke level 50% (B50) berpotensi memicu anomali pada neraca bahan bakar minyak (BBM) nasional. PT Pertamina Patra Niaga memproyeksikan adanya potensi kelebihan pasokan atau ekses solar murni (B0) hingga 8,3 juta kiloliter (KL) per tahun yang sulit terserap pasar domestik maupun internasional.

VP Business Development & Subsidiary PT Pertamina Patra Niaga Sigit Setiawan mengungkapkan, peningkatan bauran Fatty Acid Methyl Ester (FAME) secara langsung bakal menggerus utilisasi solar hasil kilang dalam negeri. Tantangan teknis muncul lantaran kilang tidak memiliki fleksibilitas untuk menurunkan produksi satu jenis produk secara parsial tanpa memengaruhi output produk lainnya.

"Kilang ini tidak bisa kita desain modenya hanya untuk menurunkan solar saja. Jika output solar diturunkan, maka produk lain seperti gasoline (bensin), LPG, dan avtur juga akan terdampak ikut turun," kata Sigit di Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Sigit menjelaskan, kondisi ini menciptakan dilema fiskal dan ketahanan energi. Saat ini, Indonesia masih bergantung pada impor gasoline hingga 50% dari total kebutuhan nasional. Jika Pertamina menurunkan aktivitas kilang guna meredam ekses solar, konsekuensinya adalah volume impor bensin bakal membengkak.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Layanan QR Code di Jawa Timur untuk Subsidi Tepat Sasaran

Berdasarkan data operasional Pertamina, posisi ekses solar saat ini berada di level 2,8 juta KL per tahun. Namun, angka ini diprediksi akan melonjak seiring dengan rencana beroperasinya proyek kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban yang diproyeksikan menambah pasokan solar hingga 5,5 juta KL per tahun. Alhasil, total potensi surplus solar secara ultimate mencapai 8,3 juta KL per tahun.

Hambatan Ekspor

Pilihan untuk melempar kelebihan pasokan ke pasar global pun menemui jalan terjal. Sigit memaparkan, mayoritas solar hasil kilang domestik saat ini masih berkategori belerang tinggi (high sulfur). Sementara itu, standar pasar internasional telah bermigrasi ke produk rendah belerang (low sulfur).

"Kita punya dua tantangan besar untuk ekspor. Pertama, pasar global yang bisa menerima solar high sulfur sudah sangat terbatas. Kedua, adanya premium freight atau tambahan biaya pengapalan yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan konsumsi di dalam negeri," jelasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Fajar Sulaiman