Kredit Foto: Unsplash/Muhammad Asyfaul
Meta Platforms mengancam akan memblokir akses Facebook, Instagram, dan WhatsApp di New Mexico, Amerika Serikat, jika dipaksa memenuhi tuntutan ketat terkait perlindungan anak. Langkah ini muncul setelah perusahaan dinyatakan bersalah dan didenda US$375 juta dalam kasus pelanggaran keamanan anak.
Mengutip The Guardian, ancaman tersebut disampaikan melalui dokumen pengadilan menjelang tahap lanjutan persidangan yang akan menentukan langkah perbaikan yang wajib dilakukan Meta. Tahap kedua ini dijadwalkan mulai 4 Mei dan akan fokus pada kewajiban perusahaan dalam meningkatkan keamanan platform, khususnya bagi pengguna di bawah umur.
Pemerintah New Mexico mendorong sejumlah reformasi besar, mulai dari verifikasi usia yang lebih ketat hingga perubahan algoritma agar tidak memprioritaskan keterlibatan (engagement) di atas keselamatan anak. Bahkan, negara bagian tersebut mengusulkan pembatasan enkripsi end-to-end untuk pengguna di bawah umur serta pengawasan independen melalui pihak yang ditunjuk pengadilan.
Namun, Meta menilai tuntutan tersebut terlalu berat dan sulit diterapkan secara teknis. Dalam dokumen pengadilan, perusahaan menyebut sejumlah permintaan bahkan tidak realistis untuk dijalankan.
“Banyak permintaan tersebut secara teknologi atau praktik tidak dapat dilakukan dan pada dasarnya akan memaksa Meta membangun aplikasi yang sepenuhnya terpisah hanya untuk digunakan di New Mexico,” tulis Meta.
Meta juga menegaskan bahwa tuntutan tersebut berpotensi membuat mereka menarik seluruh layanan dari wilayah tersebut sebagai satu-satunya opsi yang memungkinkan.
“Memberikan tuntutan yang terlalu memberatkan dapat memaksa Meta untuk sepenuhnya menarik Facebook, Instagram, dan WhatsApp dari negara bagian tersebut sebagai satu-satunya cara untuk mematuhi perintah,” lanjutnya.
Di sisi lain, Jaksa Agung New Mexico, Raúl Torrez, menilai ancaman tersebut sebagai bentuk tekanan semata dan menegaskan bahwa Meta sebenarnya mampu memenuhi tuntutan yang diajukan.
“Kami tahu Meta memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan ini. Ini bukan soal kemampuan teknologi. Meta hanya menolak menempatkan keselamatan anak di atas keterlibatan pengguna, pendapatan iklan, dan keuntungan,” tegas Torrez.
Sebelumnya, juri memutuskan Meta bersalah karena dianggap menyesatkan publik terkait keamanan platform serta memungkinkan terjadinya eksploitasi seksual anak. Putusan ini menjadi salah satu kasus besar pertama yang secara langsung menempatkan tanggung jawab hukum pada perusahaan atas dampak platformnya.
Baca Juga: AI Kembali Makan Korban, Giliran Karyawan Meta Akan Kena PHK
Baca Juga: Meta Tambah Fitur Keamanan, Orang Tua Kini Bisa Cek Aktivitas AI Anak
Baca Juga: Meta Kembangkan Kloningan Mark Zuckerberg
Dalam tahap lanjutan persidangan, Meta juga akan menghadapi tudingan sebagai “gangguan publik” (public nuisance), menurut laporan AP News, khususnya terkait dampaknya terhadap kesehatan mental dan keselamatan anak.
Sementara itu, Meta membantah tuduhan tersebut dan menilai perusahaan diperlakukan tidak adil dibandingkan ratusan aplikasi lain yang juga digunakan remaja. Perusahaan juga menegaskan telah terus mengembangkan fitur keamanan untuk pengguna muda.
Kasus ini menjadi sorotan global karena memperlihatkan tarik-menarik antara regulasi perlindungan anak dan keberlanjutan bisnis platform digital.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: