Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Komisi Ride Hailing 8% Berpotensi Tekan Aplikator dan Layanan

        Komisi Ride Hailing 8% Berpotensi Tekan Aplikator dan Layanan Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Rencana pemerintah masuk dan mengatur industri ride hailing dengan merencanakan pemangkasan potongan biaya menjadi 8% dinilai menekan model bisnis perusahaan aplikator dan memengaruhi kualitas layanan.

        Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menyebut kebijakan tersebut terlalu rendah dan berisiko terhadap keberlanjutan industri. Ia menilai, pemangkasan komisi secara signifikan akan berdampak langsung pada kondisi keuangan perusahaan aplikasi.

        “Perusahaan aplikator akan mengalami tekanan finansial luar biasa, ruang inovasi menjadi sempit, kualitas layanan (kenyamanan, keselamatan, keamanan, dll) menjadi menurun. Dampaknya, pengguna kurang puas,” ujarnya kepada Warta Ekonomi, Selasa (5/5/2026).

        Model bisnis ride hailing, kata Wijayanto, bergantung pada keseimbangan antara pendapatan perusahaan dan insentif bagi pengguna serta pengemudi. Dengan adanya penurunan komisi ini dinilai bisa mengganggu keseimbangan tersebut.

        Selain itu, Wijayanto menilai bahwa skema komisi rendah belum sesuai dengan kondisi industri saat ini.

        “Bisa jadi komisi 20% suatu saat bisa diturunkan setelah ekosistem industri ini lebih mature. Yang jelas, 8% terlalu rendah dan membuat aplikatilor sulit bertahan, maturity ekosistem pun akan terhambat,” katanya.

        Selain itu, dampak kebijakan ini juga bisa dirasakan oleh pengemudi dan pengguna. Meski pengemudi terlihat diuntungkan karena penurunan komisi, jumlah penumpang diprediksi bisa menurun karena perubahan layanan yang bisa mempengaruhi tarif.

        “Driver sekilas akan diuntungkan, tetapi ada potensi jumlah penumpang justru menurun,” ujarnya.

        “Tarif akan menurun sebesar penurunan komisi, tetapi akan naik akibat hilangnya diskon. Dampak bagi tarif bisa jadi tidak besar,” lanjut Wijayanto.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: