Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ekonomi Indonesia Masih Ngebut, Purbaya: Duit Banyak, Gak Usah Takut

        Ekonomi Indonesia Masih Ngebut, Purbaya: Duit Banyak, Gak Usah Takut Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan prospek ekonomi Indonesia tetap kuat dan berada dalam fase akselerasi, menyusul capaian pertumbuhan 5,61% pada kuartal I 2026. Ia meminta pelaku pasar tidak panik terhadap dinamika yang terjadi, termasuk tekanan di pasar keuangan.

        “Yang pertama dari angka pertumbuhan ekonomi yang keluar hari ini 5,61% kita diskusikan dengan Bapak Presiden. Kita memang sudah bisa membalik arah ekonomi, dulu kan sebelumnya 5,39 sekarang 5,61,” ujar Purbaya.

        Purbaya menyampaikan bahwa arah pertumbuhan ekonomi saat ini menunjukkan perbaikan signifikan dibanding periode sebelumnya yang cenderung stagnan di kisaran 5% atau di bawahnya. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa ekonomi domestik mulai bergerak lebih cepat.

        “Itu yang tidak disadari banyak orang sehingga orang agak takut dan keluar dari pasar modal,” katanya.

        Ia menilai persepsi negatif pelaku pasar tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi yang tetap solid. Karena itu, pemerintah berupaya menjaga momentum pertumbuhan melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.

        Baca Juga: Ekonomi Tumbuh 5,61%, Purbaya Siapkan Stimulus Baru

        Baca Juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, Purbaya: Kita Lepas dari Kutukan 5%

        Untuk memperkuat akselerasi ekonomi, pemerintah menyiapkan stimulus tambahan yang direncanakan mulai berjalan pada 1 Juni 2026. Kebijakan ini diarahkan untuk menjaga konsumsi dan mendorong aktivitas ekonomi domestik.

        “Dan juga kita akan memberikan stimulus tambahan ke perekonomian yang tidak lama lagi akan diumumkan. Mungkin 1 Juni akan mulai jalan,” ujar Purbaya.

        Selain stimulus, pemerintah juga memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia dalam menjaga likuiditas sistem keuangan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan stabilitas pasar tetap terjaga di tengah dinamika global.

        Di sisi pembiayaan, pemerintah akan melakukan diversifikasi melalui penerbitan obligasi berdenominasi yuan (panda bond) di China. Instrumen ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS serta memperluas sumber pendanaan.

        “Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan bond dalam panda bond di China dengan bunga yang lebih rendah sehingga kita tidak tergantung terlalu banyak ke dolar lagi,” kata Purbaya.

        Diversifikasi pembiayaan tersebut menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas nilai tukar dan memperkuat ketahanan ekonomi terhadap tekanan eksternal.

        Baca Juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, Airlangga Klaim Tertinggi di Negara G20

        Baca Juga: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Triwulan I 2026

        Dalam kesempatan yang sama, Purbaya juga menyampaikan pesan Presiden terkait kondisi fiskal pemerintah yang dinilai tetap kuat.

        “Tadi Pak Presiden juga bilang sama saya, suruh sampaikan pesan bahwa uang saya cukup. Duitnya banyak, jadi Anda tidak usah takut,” ujarnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: