Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Film Pendek Indonesia-Jerman 'VATERLAND or A Bule Named Yanto' Lolos Kompetisi La Semaine de la Critique Cannes 2026

        Film Pendek Indonesia-Jerman 'VATERLAND or A Bule Named Yanto' Lolos Kompetisi La Semaine de la Critique Cannes 2026 Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Film pendek ko-produksi Indonesia–Jerman "VATERLAND or A Bule Named Yanto" karya sutradara Berthold Wahjudi resmi terpilih dalam kompetisi film pendek La Semaine de la Critique edisi ke-65 di Cannes Film Festival. Capaian ini menempatkan film tersebut dalam salah satu program paling bergengsi di festival, yang selama puluhan tahun dikenal sebagai ruang lahirnya suara-suara baru perfilman dunia.

        Tahun ini, VATERLAND or A Bule Named Yanto menjadi satu dari 10 film pendek internasional yang berkompetisi di La Semaine de la Critique, setelah terpilih dari lebih dari 2.400 submisi dari berbagai negara. Seleksi tersebut menegaskan posisi film ini sebagai salah satu karya pendek internasional yang mencuri perhatian dalam kompetisi tahun ini.

        Diproduksi oleh madfilms bersama Aftersun Creative, film ini diproduseri Jonas Egert, Sylvain Cruiziat, dan Annisa Adjam, dengan Bagus Suitrawan sebagai line producer Indonesia. Keterlibatan mayoritas kru Indonesia juga menegaskan kuatnya kontribusi lokal dalam produksi film ini.

        Berlatar di Yogyakarta dan direkam menggunakan format 16mm oleh Noah Böhm, film ini mengikuti perjalanan Yanto yang diperankan Aggai Simon, seorang pemuda keturunan Jerman–Indonesia yang datang mengunjungi adik perempuannya di Indonesia. Pertemuan itu perlahan berkembang menjadi perjalanan emosional tentang identitas, rasa memiliki, dan keterasingan di antara dua budaya.

        Ketika Yanto menyadari bahwa sang adik terasa jauh lebih menyatu dengan lingkungan Indonesia dibanding dirinya sendiri, muncul rasa canggung, iri, dan kehilangan di antara keduanya. Melalui pendekatan coming-of-age dramedy yang intim, film ini mengeksplorasi pengalaman identitas ras campuran serta pertanyaan universal tentang tempat yang benar-benar dapat disebut rumah.

        Dalam wawancara resminya bersama La Semaine de la Critique, Berthold Wahjudi menyebut film ini lahir dari pengalaman personal sebagai individu berdarah campuran Indonesia–Jerman. Ia tertarik mengeksplorasi bagaimana seseorang dapat merasa asing terhadap budaya yang secara biologis maupun emosional justru dekat dengannya.

        Sebelum terpilih di Cannes, proyek VATERLAND or A Bule Named Yanto telah lebih dulu dikembangkan melalui Berlinale Short Form Station 2025 dan memenangkan European Short Pitch 2025. Jejak tersebut memperkuat perjalanan internasional film ini sebelum menjalani pemutaran perdana dunianya di Cannes.

        Baca Juga: Film Na Willa, Langkah Ekraf Bangun Karakter Anak Lewat Layar Lebar

        Bagi Annisa Adjam dan Aftersun Creative, keikutsertaan film ini menjadi bagian dari upaya memperluas representasi cerita Asia Tenggara dan identitas diaspora melalui kolaborasi internasional yang setara dan personal.

        La Semaine de la Critique atau Critics’ Week merupakan program independen yang didirikan oleh French Union of Film Critics pada 1962 dan dikenal sebagai ruang lahirnya banyak sineas dunia, termasuk Wong Kar-wai, Guillermo del Toro, Alejandro González Iñárritu, hingga Julia Ducournau. Edisi ke-65 La Semaine de la Critique berlangsung pada 13–21 Mei 2026 di Cannes, Prancis.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: