Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Flip: Transformasi Digital Indonesia Harus Dimulai dari Perubahan Pola Pikir

        Flip: Transformasi Digital Indonesia Harus Dimulai dari Perubahan Pola Pikir Kredit Foto: Flip
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Flip menegaskan bahwa transformasi digital di Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, tetapi harus dimulai dari perubahan pola pikir dalam membangun inovasi. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan PIDI – DIGDAYA x Hackathon 2026 bertema “Berinovasi untuk Masa Depan, Memberdayakan Talenta Digital”.

        Co-Founder Flip, Rafi Putra Arriyan, mengatakan inovasi tidak selalu lahir dari ide besar, melainkan dari pemahaman mendalam terhadap masalah nyata yang dihadapi pengguna.

        Baca Juga: Pertamina dan Halliburton Perkuat Kolaborasi untuk Dorong Inovasi Digital di Sektor Hulu Migas

        “Flip dimulai dengan memberikan solusi inovatif dari satu masalah finansial yang paling riil, yaitu mengirim uang. Namun seiring kami semakin memahami kebutuhan pengguna, inovasi yang sesungguhnya terjadi ketika kita tetap dekat dengan mereka dan memahami kebutuhan mereka. Dengan begitu, kita bisa menemukan berbagai masalah lain yang berkaitan dengan cara mereka berbelanja hingga menabung,” ujar Rafi.

        Berawal dari solusi sederhana untuk menghilangkan biaya transfer antarbank, pihaknya terus berkembang mengikuti kebutuhan pengguna yang semakin kompleks, mulai dari pembayaran berbagai kebutuhan, transfer luar negeri, hingga layanan yang terintegrasi dengan ekosistem digital Indonesia.

        Saat ini, Flip disebut telah melayani lebih dari 16 juta pengguna di Indonesia.

        Menurut Rafi, pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin besarnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan digital yang praktis dan relevan dalam kehidupan sehari-hari.

        Ia juga menyoroti banyak inovasi yang gagal berkembang karena hanya menarik secara konsep, namun tidak menjawab kebutuhan nyata pasar.

        Pengalaman Flip pada tahap awal menunjukkan bahwa memahami “pain point” pengguna jauh lebih penting dibanding sekadar menciptakan solusi yang terlihat canggih.

        Start small mindset. Dulu kami pikir inovasi berarti menciptakan sesuatu yang belum pernah ada. Ternyata, inovasi yang paling sulit adalah memberikan solusi yang tetap relevan terhadap masalah yang terus berubah. Bagi kami inovasi membutuhkan keberanian, kerendahan hati, kolaborasi dan kesabaran,” kata Rafi.

        Ia menambahkan bahwa kombinasi antara pola pikir yang tepat dan eksekusi berbasis kebutuhan nyata menjadi kunci utama dalam membangun inovasi berkelanjutan.

        Adapun PIDI – DIGDAYA x Hackathon 2026 merupakan inisiatif nasional yang diinisiasi oleh Bank Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), industri serta berbagai mitra strategis guna mendukung transformasi ekonomi dan keuangan digital di Indonesia.

        Baca Juga: Meutya Hafid: Bukan Sekadar Pengawasan, Kesadaran Diri jadi Kunci Bijak Bermedia Digital

        Melalui kolaborasi regulator, pelaku industri, akademisi dan generasi muda, program tersebut diharapkan mampu melahirkan talenta digital unggul serta solusi inovatif yang siap diimplementasikan di berbagai sektor.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: