Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Hasil KTT ASEAN: RI-Filipina Jajaki Rencana Interkoneksi Listrik

        Hasil KTT ASEAN: RI-Filipina Jajaki Rencana Interkoneksi Listrik Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa rencana integrasi jaringan listrik regional (ASEAN Power Grid/APG) akan diperluas hingga menjangkau Filipina. Langkah ini merupakan strategi proteksi kawasan dalam menghadapi ketidakpastian pasokan energi di tengah eskalasi geopolitik global.

        Rencana interkoneksi ke Filipina ini terbilang progresif lantaran belum tercantum dalam dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) periode 2025-2034. Bahlil menegaskan, integrasi transmisi lintas negara ini harus berpijak pada nilai keekonomian dan kemanfaatan bersama.

        "Menyangkut dengan (ASEAN) power grid. Sekarang kan kita sudah bangun jaringan antara Malaysia-Indonesia. Sebentar lagi akan masuk Filipina. Memang Singapura minta. Ini sebenarnya ide yang bagus, selama saling menguntungkan," ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (11/5/2026).

        Dalam implementasi yang telah berjalan antara Indonesia dan Malaysia, Bahlil menilai kerja sama tersebut memberikan dampak positif, terutama dari sisi harga yang kompetitif atau sesuai dengan nilai keekonomian.

        "Seperti kita melakukan kerja sama antara Malaysia dan Indonesia, itu kan kita juga impor listrik dari Malaysia, PLTA kita lewat Kalimantan. Itu bagus, harganya cengli. Tapi untuk Singapura, kita juga akan ekspor, tapi harganya juga harus cengli. Selama itu belum kita bicara tentang win-win, maka saya pikir penting untuk melakukan kajian yang lebih mendalam," tegas Bahlil.

        Peta Jalan Interkoneksi APG yang Tercantum dalam RUPTL 2025-2034

        Meski interkoneksi Filipina merupakan rencana baru, dokumen RUPTL PLN 2025-2034 telah memetakan sejumlah proyek interkoneksi strategis lainnya yang menjadi pilar penguatan sistem kelistrikan regional:

        1. Sumatera – Peninsular Malaysia: Koneksi via SUTET 500 kV Perawang–Rantau Prapat/GITET Perawang. Mengacu pada ASEAN Interconnection Masterplan Study (AIMS) III, potensi transfer daya mencapai 0,6–2,1 GW. Saat ini, PLN dan Tenaga Nasional Berhad (TNB) tengah mematangkan desain teknis dan regulasi.

        2. Sumatera – Singapura: Fokus pada ekspor energi bersih (PLTS) dengan kapasitas transfer hingga 2 GW. PLN bertindak sebagai integrator interkoneksi via kabel laut (subsea cable). Proyek ini mendukung pemegang Conditional Approval (CA) dari EMA Singapura.

        3. Kalimantan – Sarawak: Operasional transmisi 275 kV melalui skema Purchase Electricity Agreement (PEA). Ke depan, kerja sama ditingkatkan menjadi Power-Exchange Agreement untuk saling berbagi cadangan daya sesuai keekonomian sistem.

        Baca Juga: Dari KTT ASEAN, Bahlil Tegaskan RI Tak Bisa Bergantung pada Satu Energi

        Baca Juga: Kenakan Barong Bermotif Batik, Presiden Prabowo Hadiri Jamuan Makan Malam KTT ke-48 ASEAN

        4. Kalimantan – Sabah: Penjajakan interkoneksi dengan potensi 0,1–0,2 GW (AIMS III). PLN bersama Sabah Electricity Sdn Bhd (SESB) tengah menyusun studi detail implementasi.

        5. Indonesia – Timor Leste: Penguatan sistem Pulau Timor melalui pembangunan GI 150 kV Malaka di NTT untuk menyuplai kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN).

        6. Indonesia – Papua Nugini (PNG): Suplai listrik dari Gardu Hubung Skouw (Papua) ke wilayah Wutung, PNG. Kapasitas awal direncanakan sebesar 2 MW melalui jaringan SKTM, sembari menunggu kesepakatan Power Purchase Agreement (PPA).

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: