Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Terkapar Jelang Pengumuman Rebalancing MSCI, Asing Kabur Rp751 Miliar

        IHSG Terkapar Jelang Pengumuman Rebalancing MSCI, Asing Kabur Rp751 Miliar Kredit Foto: Uswah Hasanah
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 63,77 poin atau 0,92% ke level 6.905,620 pada perdagangan Senin (11/5/2026), sehari jelang pengumuman hasil rebalancing MSCI Global Standard Indexes yang dijadwalkan pada Selasa (12/5/2026). Tekanan pasar terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap sikap MSCI yang masih membekukan sejumlah kebijakan terkait saham-saham Indonesia.  

        Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan investor asing membukukan jual bersih Rp751,18 miliar pada perdagangan Senin. Secara tahun berjalan (year to date/YTD), net sell asing di pasar saham domestik telah mencapai Rp38,36 triliun.  

        Tekanan terhadap pasar saham domestik muncul setelah MSCI dalam pengumuman tertanggal 5 Mei 2026 menyatakan masih mempertahankan kebijakan pembekuan kenaikan foreign inclusion factor (FIF) dan number of shares (NOS) untuk seluruh saham Indonesia pada evaluasi Mei 2026.

        MSCI juga memastikan belum akan menambahkan saham baru Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Selain itu, MSCI belum membuka peluang perpindahan saham Indonesia ke segmen indeks yang lebih tinggi, termasuk migrasi dari kategori Small Cap ke Standard Index.

        Dalam keterangannya, MSCI menyebut keputusan tersebut diambil sambil mengevaluasi reformasi transparansi pasar modal yang baru diumumkan otoritas Indonesia.

        “MSCI mengakui pengumuman terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) terkait serangkaian reformasi transparansi pasar modal di Indonesia,” tulis MSCI dalam pengumuman resminya.

        MSCI menjelaskan reformasi tersebut mencakup pengungkapan pemegang saham di atas 1%, peningkatan klasifikasi data investor, penerapan kerangka high shareholding concentration (HSC), serta roadmap peningkatan minimum free floatmenjadi 15%.

        Meski demikian, MSCI menyatakan masih menilai efektivitas dan konsistensi implementasi kebijakan tersebut sebelum digunakan dalam penentuan free float dan kelayakan investasi saham Indonesia.

        “MSCI akan mempertahankan pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares (NOS), tidak melakukan penambahan saham ke MSCI IMI, serta tidak melakukan migrasi saham ke segmen indeks yang lebih tinggi,” tulis MSCI.

        MSCI juga menyebut akan menghapus saham yang diidentifikasi otoritas Indonesia sebagai bagian dari kerangka HSC, sejalan dengan perlakuan yang diterapkan di negara lain dengan kondisi serupa.

        Lembaga indeks asal Amerika Serikat itu menambahkan pihaknya masih memerlukan waktu untuk mengevaluasi sumber data baru dan masukan dari pelaku pasar sebelum memasukkan perubahan tersebut ke dalam metodologi penilaian free float.

        Di tengah sentimen tersebut, saham-saham berkapitalisasi besar menjadi penekan utama IHSG. Berdasarkan data BEI, saham PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) turun 8,21% dan menjadi pemberat terbesar indeks dengan kontribusi negatif 29,73 poin. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) melemah 7,56%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) turun 1,84%, serta PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) turun 8,18%.  

        Baca Juga: Soal Putusan MSCI Besok, Pandu Sjahrir: Seharusnya No Surprise

        Baca Juga: BEI Soal Potensi Penurunan Bobot MSCI: Ini Adalah Pil Pahit Jangka Pendek yang Kita Telan

        Baca Juga: Saham RI Bakal Keluar dari MSCI, Bos OJK Buka Suara

        Secara sektoral, indeks sektor transportasi dan logistik terkoreksi paling dalam sebesar 2,88%, disusul sektor energi yang turun 2,02% dan sektor keuangan melemah 1,74%. Sementara itu, sektor infrastruktur menjadi salah satu sektor yang masih menguat 1,52%.  

        Pelemahan tersebut memperpanjang tekanan pasar saham domestik sepanjang tahun ini. Hingga perdagangan 11 Mei 2026, IHSG tercatat telah turun 20,14% secara YTD. Kinerja tersebut menjadikan pasar saham Indonesia termasuk yang terburuk di kawasan ASEAN.  

        MSCI dijadwalkan mengumumkan hasil evaluasi indeks pada 12 Mei 2026 dan seluruh perubahan akan berlaku efektif pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: