Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Indonesia Miliki 23 Persen Mangrove Dunia, Menteri Kehutanan Gagas World Mangrove Center di Markas PBB

        Indonesia Miliki 23 Persen Mangrove Dunia, Menteri Kehutanan Gagas World Mangrove Center di Markas PBB Kredit Foto: Kemenhut
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Dalam rangkaian Sidang ke-21 United Nations Forum on Forests (UNFF) di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, menegaskan posisi strategis Indonesia sebagai kekuatan utama dunia dalam pelestarian ekosistem mangrove.

        Dengan kepemilikan sekitar 23% dari total luas mangrove global, yang merupakan terbesar di dunia, Indonesia menjadikan mangrove sebagai aset vital bagi aksi iklim, ketahanan wilayah pesisir, dan konservasi keanekaragaman hayati.

        Melalui inisiatif World Mangrove Center, Indonesia secara resmi mengajak masyarakat internasional untuk memperkuat kemitraan global, memperluas kolaborasi riset dan inovasi, serta mendorong aksi nyata bagi perlindungan dan restorasi mangrove dunia secara berkelanjutan.

        "Indonesia menyambut baik kolaborasi melalui World Mangrove Center untuk memajukan manajemen mangrove berkelanjutan di tingkat global. Dengan penguasaan hampir seperempat mangrove dunia, kami ingin memastikan ekosistem ini menjadi pilar utama dalam mitigasi perubahan iklim dan perlindungan wilayah pesisir," ujar Menteri Raja Juli Antoni di New York, Senin (11/5) waktu setempat.

        Menteri Kehutanan menjelaskan bahwa sekitar 80% dari total ekosistem mangrove di Indonesia berada di bawah wilayah kewenangan Kementerian Kehutanan. Hal ini memberikan tanggung jawab sekaligus peluang besar bagi Indonesia memimpin dunia dalam memanfaatkan potensi mangrove.

        Dalam pemanfaatannya, mangrove berguna untuk mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon yang sangat tinggi dan juga perlindungan abrasi dan gelombang pasang.

        Komitmen ini sejalan dengan target nasional restorasi mangrove seluas 600.000 hektare hingga 2024 yang telah menunjukkan hasil pesat. Keberlanjutan program tersebut kini diperkuat melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan pendanaan internasional yang difasilitasi World Mangrove Center.

        Lebih lanjut, Dyah Murtiningsih, Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH), menyatakan bahwa World Mangrove Center dibangun oleh Indonesia dengan tujuan menciptakan pusat unggulan yang memfasilitasi tiga hal utama:

        • Pertukaran pengetahuan antar ilmuwan dan praktisi mangrove global,
        • Riset dan inovasi teknologi restorasi yang adaptif terhadap kondisi lokal,
        • Pendanaan internasional untuk proyek-proyek perlindungan mangrove lintas negara.

        Dalam agenda World Mangrove Center, inisiatif pusat penelitian dan restorasi mangrove dikembangkan di berbagai field observatory station yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, hingga Papua.

        "Langkah ini diharapkan dapat mempercepat restorasi mangrove global dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan ekosistem pesisir dunia," ujar Dyah Murtiningsih.

        Baca Juga: Ungkap Perusakan Mangrove di Meranti, Polda Riau Gagalkan Pengiriman 100 Ton Arang ke Malaysia

        Kehadiran Menteri Kehutanan di Markas PBB ini mempertegas bahwa Indonesia tidak hanya menjaga kekayaan alam nasional, tetapi juga secara aktif menggerakkan kemitraan global untuk solusi berbasis alam yang berkelanjutan. 

        Dalam konteks ekonomi hijau, ekosistem mangrove memiliki nilai ekonomi yang signifikan, mulai dari penyediaan jasa lingkungan (karbon biru), perikanan pesisir, ekowisata, hingga perlindungan infrastruktur pantai.

        Dengan mengoperasikan World Mangrove Center, Indonesia berpotensi menjadi rujukan global dalam pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (MRV) karbon biru, sekaligus membuka peluang bagi mekanisme pembiayaan iklim internasional seperti Blue Carbon Fund dan skema carbon credit berbasis mangrove.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: