Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        OJK Klaim Reaksi Pasar Pasca Rebalancing MSCI Masih Wajar, Tidak Ada Panic Selling

        OJK Klaim Reaksi Pasar Pasca Rebalancing MSCI Masih Wajar, Tidak Ada Panic Selling Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan respons pasar terhadap pengumuman rebalancing indeks global oleh MSCI masih berada dalam kondisi stabil dan terkendali. Ini dibuktikan tanpa adanya indikasi aksi jual panik (panic selling).

        Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyampaikan pihaknya akan terus memonitor pergerakan pasar secara ketat, khususnya pada hari pengumuman rebalancing indeks yang berpotensi memicu volatilitas jangka pendek.

        Hingga pukul 10.00 WIB, OJK mencatat terjadi penurunan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun koreksi tersebut dinilai sebagai reaksi normal terhadap proses penyesuaian portofolio investor global.

        "Sampai pukul 10.00 WIB terkonfirmasi ada penurunan indeks tapi dengan tingkat aktivitas yang kami nilai masih dalam batasan wajar," ungkap dia di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (12/5/2026).

        Hasan menilai aktivitas perdagangan tetap sehat. Saham-saham yang terdampak rebalancing juga tidak menunjukkan tekanan ekstrem di pasar.

        “Saham-saham yang terdampak sekalipun tidak ada satupun yang mengalami misalnya kondisi auto rejection bawah gitu ya," katanya.

        Selain itu, indikator perdagangan lain juga menunjukkan stabilitas pasar, diantaranya frekuensi transaksi tetap normal, volume dan nilai perdagangan relatif stabil, serta tidak terjadi arus jual satu arah.

        "Jadi ini juga menunjukkan tidak adanya upaya panic selling atau reaksi satu arah berupa arus katakanlah upaya menjual saham-saham tanpa diimbangi kekuatan pembelian," sebut Hasan.

        OJK menilai valuasi pasar saham Indonesia justru semakin menarik. Rasio harga terhadap laba (price to earning ratio/PER) IHSG saat ini berada di kisaran 16 kali, jauh lebih rendah dibandingkan posisi saat pasar mencapai all time high pada pertengahan Januari lalu.

        Baca Juga: IHSG Dibuka Terkoreksi Tajam Dipicu Sentimen dari MSCI

        Baca Juga: OJK Nilai Rebalancing MSCI Jadi Konsekuensi Jangka Pendek Reformasi Integritas Pasar Modal

        Bahkan secara regional, valuasi saham Indonesia kini berada di bawah rata-rata bursa negara lain, yang dinilai membuka peluang investasi jangka menengah dan panjang.

        "Kami berharap para investor kita secara selektif memanfaatkan momentum ini untuk masuk di pasar dan memilih saham-saham terbaik yang secara prospektif," pungkas dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: