Rupiah Ditutup Perkasa ke Rp17.475 Meski Tekanan Geopolitik Timur Tengah Masih Tinggi
Kredit Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp17.475 pada perdagangan Rabu (13/5/2026). Mata uang Garuda menguat 53 poin dari penutupan sebelumnya di level Rp17.528 per USD.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan sentimen pergarakan rupiah masih dibayangi oleh gagalnya negosiasi AS dengan Iran. Hal ini menyusul penolakan Teheran terhadap proposal yang didukung AS yang bertujuan untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.
"Komentar tersebut meredam optimisme atas gencatan senjata jangka pendek dan menjaga ketidakpastian geopolitik tetap tinggi," kata Ibrahim kepada wartawan.
Konflik yang berkepanjangan, kata Ibrahim, telah mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur transit minyak global utama, yang memicu kekhawatiran akan inflasi yang berkelanjutan akibat kenaikan harga energi dan mempersulit prospek suku bunga.
Sementara dari dalam negeri, rupiah dibayangi oleh posisi utang pemerintah yang hampir menyentuh angka Rp10.000 triliun atau tepatnya Rp9.920,42 triliun sampai akhir Maret 2026.
"Sejatinya jumlah utang pemerintah tersebut naik sebesar Rp282,52 triliun dibandingkan posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp9.637,90 triliun," kata dia.
Baca Juga: Utang RI Tembus Rp9.920 Triliun, Purbaya: Harusnya Anda Puji-puji Kita
Baca Juga: BI Pasang Badan Jaga Rupiah Lewat Smart Intervention di Pasar Global
Apabila dilihat dari rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih di posisi 40,75% atau di bawah batas aman Undang-Undang Keuangan Negara yang sebesar 60% PDB. Rasio utang Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara lain.
"Pemerintah, dalam hal ini mengelola utang secara cermat dan terukur. Menurutnya, utang Singapura di level 180% terhadap PDB, Malaysia lebih dari 60% dari PDB," kata Ibrahim.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: