Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pemerintah Bakal Impor Tabung CNG 3 Kg Minimal 100 Ribu Unit

        Pemerintah Bakal Impor Tabung CNG 3 Kg Minimal 100 Ribu Unit Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan tantangan teknis dalam pengadaan tabung CNG untuk kebutuhan rumah tangga.

        Mengingat tabung CNG ukuran setara 3 kg dengan teknologi Tipe 4 belum diproduksi secara masal di dunia, diperlukan volume pesanan minimal (minimum order) sebesar 100 ribu unit untuk memulai proses produksi.

        Direktur Jenderal Migas KESDM, Laode Sulaeman, menyatakan bahwa tabung Tipe 4 berbahan fiber dipilih karena faktor keamanan dan bobot yang ringan agar user-friendly bagi ibu rumah tangga. Namun, karena ini merupakan inovasi pertama di dunia untuk ukuran mini, produsen memerlukan skala ekonomi tertentu.

        "Nah, untuk kita memesan material barangnya ini, kita tidak boleh pesan satu, harus banyak. Minimal order ya 100 ribuan gitu. Nah, makanya kalau ada yang nanya kok belum dibikin? Ya memang harus di-order 100 ribu atau di atasnya baru (diproduksi)," jelas Laode dalam siniar Youtube KESDM,  dikutip Senin, (18/5/2026).

        Pemerintah menargetkan dalam tiga bulan ke depan sudah bisa melakukan pesanan perdana (first order). Setelah itu, dalam kurun waktu 1-2 bulan, tabung hasil pesanan tersebut akan melewati serangkaian uji coba sebelum dilepas ke masyarakat.

        Baca Juga: ESDM Sebut Pengadaan Awal Tabung CNG 3 Kg Lewat Impor

        Baca Juga: PGN Siapkan Ekspansi CNG ke Rumah Tangga dan UMKM di Batam

        Laode menekankan, meski tabung Tipe 4 memiliki biaya material yang lebih tinggi karena teknologinya yang advanced, secara keseluruhan penggunaan CNG tetap lebih efisien dibandingkan LPG impor.

        "Gas kita melimpah harganya murah, tapi tabungnya yang mahal karena material khusus. Namun setelah dihitung, subsidi bisa berkurang 30 sampai 40% karena efisiensi gas bumi kita sendiri," pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: