Kredit Foto: Istimewa
Polri mengirim sekitar 2,5 ton peralatan SAR dan bantuan logistik ke wilayah terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bantuan tersebut dikirim menggunakan pesawat CN295 Polri untuk mempercepat penanganan di sejumlah daerah yang terdampak bencana.
Pesawat dengan nomor registrasi P-4501 itu diberangkatkan dari Mako Polisi Udara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (16/8/2026) pagi. Selain membawa logistik, pesawat tersebut mengangkut personel SAR dan anjing pelacak untuk mendukung pencarian serta penyelamatan korban.
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan bantuan dikirim dengan mempertimbangkan kondisi sejumlah wilayah yang sulit dijangkau setelah gempa. Pemetaan terhadap daerah yang terisolasi juga terus dilakukan untuk menentukan kebutuhan penanganan berikutnya.
"Selain personel dan K9, pesawat tersebut membawa peralatan SAR serta sejumlah bantuan logistik dengan total berat sekitar 2,5 ton," kata Trunoyudo.
Bantuan yang dikirim mencakup tiga set tenda putih, enam set tenda pleton, 10 unit Wontech, serta 648 porsi makanan siap saji. Seluruh perlengkapan tersebut dipersiapkan untuk mendukung kebutuhan petugas dan masyarakat di lokasi terdampak.
Polri juga mengerahkan 21 personel Direktorat Polisi Satwa bersama 10 ekor K9. Anjing pelacak tersebut akan membantu proses pencarian korban, terutama di lokasi yang mengalami kerusakan atau tertimbun material bangunan.
Setibanya di NTT, penempatan personel, K9, dan bantuan akan dikoordinasikan dengan Polda NTT. Sejumlah wilayah seperti Sikka, Manggarai, dan Manggarai Timur menjadi perhatian dalam operasi mitigasi, pencarian, serta penyelamatan korban.
Personel yang telah diberangkatkan juga dapat digeser ke wilayah lain apabila hasil koordinasi di lapangan menunjukkan adanya kebutuhan tambahan. Langkah tersebut dilakukan agar bantuan dapat diarahkan ke titik yang paling membutuhkan.
Selain mengirim logistik melalui pesawat, Polri menyiagakan tiga unit helikopter AW-169 untuk membantu distribusi bantuan ke wilayah yang sulit dijangkau. Helikopter tersebut juga dapat digunakan untuk mendukung proses evakuasi korban.
Trunoyudo mengatakan armada udara menjadi penting karena sejumlah akses darat terdampak gempa. Kondisi tersebut membuat distribusi bantuan melalui jalur udara dibutuhkan untuk mempercepat penanganan di daerah terisolir.
"Peruntukannya untuk memberikan distribusi-distribusi bantuan kepada masyarakat yang terdampak, yang tentunya memiliki jangkauan terisolir, terbatas, dan untuk kecepatan," ujar Trunoyudo.
Baca Juga: Pemprov NTT Tetapkan Status Tanggap Darurat Gempa Bumi Selama 14 Hari
Sementara itu, pesawat Cassa Polri juga telah digunakan untuk mendukung mobilitas jajaran Polda NTT dan Forkopimda menuju sejumlah wilayah terdampak. Pesawat tersebut menjadi salah satu sarana utama ketika jalur darat tidak dapat digunakan secara optimal.
Trunoyudo menambahkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah menginstruksikan jajaran untuk segera melakukan mitigasi dan evakuasi korban. Polda NTT bersama polres-polres juga telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta pemangku kepentingan lainnya dalam penanganan bencana.
Gempa yang mengguncang NTT tersebut dilaporkan menimbulkan korban jiwa dan kerusakan di sejumlah wilayah. Data sementara BNPB yang tercantum dalam bahan awal menyebut korban meninggal mencapai 51 orang, dengan korban tersebar di Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Ngada, dan Ende.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada ratusan rumah serta berbagai fasilitas umum. Data sementara mencatat 157 rumah rusak berat, 41 rusak sedang, dan 148 rusak ringan, sementara fasilitas pendidikan, kesehatan, tempat ibadah, kantor, dan fasilitas umum lainnya turut terdampak.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama
Tag Terkait: