Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Melemah, Naikkan Suku Bunga Bisa Jadi Bumerang

        Rupiah Melemah, Naikkan Suku Bunga Bisa Jadi Bumerang Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pegiat media sosial Zulfery Yusal Koto atau Ferry Koto menilai sangat berisiko bagi Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) guna meredam pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

        Hal itu disampaikannya menanggapi desakan sejumlah netizen yang meminta BI mengikuti langkah The Fed dengan menaikkan suku bunga. Saat ini rupiah berada di level Rp17.700 per dolar AS.

        “Menaikkan suku bunga itu sangat berisiko. Saat ini saja suku bunga BI sudah tinggi di 4,75%, di atas The Fed 3,5–3,75%. Dengan suku bunga 4,75% saja, surat utang pemerintah baru menarik di 6,05–6,25%, sekuritas rupiah BI sudah 6,21–6,45%,” tulis Ferry di akun X pribadinya, Selasa (19/5).

        Menurutnya, jika BI menaikkan suku bunga, dunia usaha bisa terpuruk. “Bayangkan jika suku bunga BI dinaikkan, apalagi dampaknya ke dunia usaha,” imbuhnya.

        Ia mencontohkan Malaysia yang justru mengalami penguatan ringgit meski suku bunga acuannya lebih rendah dari The Fed, yakni 2,75%. 

        Baca Juga: Era Habibie, Rupiah Kuat tapi Rakyat Terpuruk

        Baca Juga: Prabowo Sebaiknya Tak Ikuti Cara Habibie Pulihkan Rupiah, RI Bisa Hancur!

        “Malaysia suku bunga acuannya malah lebih rendah dari The Fed, faktanya ringgit malah menguat. Jadi harus jujur, karena bisa dilihat bukan di BI kepercayaan itu hilang sehingga terjadi capital outflow,” tandasnya.

        Seperti diketahui, selama beberapa bulan terakhir, BI mempertahankan suku bunga di level 4,75% untuk menjaga sektor riil dan kredit perbankan agar tetap bergerak demi mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: