Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Smelter Nikel Terintegrasi RI Serap 24,9 Juta Ton Bijih per Tahun

        Smelter Nikel Terintegrasi RI Serap 24,9 Juta Ton Bijih per Tahun Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan total kapasitas serapan atau input bijih nikel pada smelter terintegrasi di Indonesia telah mencapai 24,9 juta ton per tahun.

        Adapun smelter terintegrasi merupakan fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral yang operasionalnya terhubung dari hulu hingga hilir.

        Fasilitas ini tidak hanya memurnikan bijih tambang, tetapi juga mencakup proses penambangan, pengolahan awal, hingga produksi logam murni dan produk turunannya.

        Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, menjelaskan besarnya volume serapan bijih nikel tersebut berasal dari 6 proyek smelter terintegrasi yang saat ini menjadi tulang punggung hilirisasi mineral nasional.

        “Dari sisi kapasitas, smelter nikel memiliki total kapasitas input sebesar 24,9 juta ton per tahun dengan kapasitas output sebesar 924.780 ton per tahun. Ini yang terintegrasi,” ujar Tri dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, dikutip Kamis (16/5).

        Berdasarkan data progres proyek hilirisasi per April 2026, PT Vale Indonesia menjadi entitas dengan kapasitas input terbesar, yakni mencapai 14,14 juta ton per tahun.

        Saat ini terdapat enam proyek smelter nikel terintegrasi yang tengah berprogres, dengan rincian sebagai berikut:

        1. PT Vale Indonesia (Sulawesi Selatan): kapasitas input 14.143.097 ton per tahun; output 94.289 ton nickel matte. (Status: selesai)

        2. PT Weda Bay Nickel (Maluku Utara): kapasitas input 3.600.000 ton per tahun; output 300.000 ton feronikel (FeNi). (Status: selesai)

        3. PT Wanatiara Persada (Maluku Utara): kapasitas input 2.200.000 ton per tahun; output 209.650 ton FeNi. (Status: selesai)

        4. PT Aneka Tambang (Sulawesi Tenggara): kapasitas input 1.901.803 ton per tahun; output 125.677 ton FeNi. (Status: selesai)

        5. PT Ang And Fang Brother (Sulawesi Tengah): kapasitas input 1.866.510 ton per tahun; output 130.508 ton FeNi. (Status: belum selesai)

        6. PT Aneka Tambang / P3FH (Maluku Utara): kapasitas input 1.219.945 ton per tahun; output 64.655 ton FeNi. (Status: hampir selesai).

        Baca Juga: Tekanan ke Pemerintah! Investor Tiongkok Protes Pajak hingga Kuota Nikel ke Prabowo

        Baca Juga: ESDM Sebut Pengadaan Awal Tabung CNG 3 Kg Lewat Impor

        Tri menegaskan, kapasitas input yang mencapai puluhan juta ton per tahun membuat pemerintah kini fokus menjaga kesinambungan pasokan bahan baku (feedstock) serta kepatuhan terhadap aspek lingkungan dan keselamatan kerja.

        “Kapasitas yang besar tentunya membutuhkan pasokan bahan baku yang besar dan tertib, tata kelola K3 yang baik, kepastian investasi, serta keseimbangan antara daya industri, penerimaan negara, dan keberlanjutan sumber daya,” tegasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: