Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, membeberkan data besar mengenai kesenjangan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia. Meski memiliki cadangan energi bersih yang masif, angka pemanfaatan saat ini dinilai masih sangat minim.
"Kita memiliki potensi energi baru terbarukan kita ada 3.680 Gigawatt, sementara yang baru dimanfaatkan sekitar 15,2 Gigawatt. Jadi kalau kita lihat persentase pemanfaatan energi baru terbarukan baru sekitar 0,4 persen dari potensi," ungkap Yuliot dalam forum hilirisasi industri di Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Yuliot menjelaskan, meski baru tergarap di bawah satu persen, penggunaan 15,2 Gigawatt EBT saat ini telah memberikan dampak signifikan bagi lingkungan.
"Dari 15,2 Gigawatt ini kita hitung bisa mengurangi emisi karbon itu sekitar 86,6 juta ton per tahun. Ini bisa kita hitung dan juga kita transisikan sebagai pemanfaatan ekonomi karbon," tambahnya.
Pemerintah kini fokus mengintegrasikan hilirisasi mineral untuk mendukung infrastruktur EBT, seperti penyediaan bahan baku sel surya, tenaga angin, hingga baterai energy storage. Hal ini dilakukan untuk mengejar dampak ekonomi jangka panjang yang telah dipetakan dalam roadmap pemerintah.
"Tentu dampak ekonomi kita juga bisa perhitungkan sampai dengan 2040. Hilirisasi dan ketahanan energi yang kami juga sudah memetakan, jadi 67 persen itu ada di luar Pulau Jawa," tegas Yuliot.
Tingginya potensi EBT di luar Jawa ini, menurut Yuliot, menjadi peluang besar bagi pemerataan ekonomi melalui industrialisasi di daerah. Namun, ia memberikan catatan bahwa penguasaan teknologi menjadi kendala utama karena proteksi yang ketat dari negara maju melalui Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
Oleh sebab itu, ia mendorong penguatan riset dan inovasi untuk mengisi kekosongan rantai pasok industri nasional.
Sebagaimana diinformasikan Yuliot, terputusnya rantai pasok kebutuhan industri menyebabkan ketergantungan akan impor bahan baku dan barang modal melambung.
Pada 2025 tercatat nilai impor bahan baku mencapai US$ 169 Miliar atau setara Rp2.763 triliun dan barang modal sebesar US$ 50 miliar atau setara Rp827 triliun.
Baca Juga: MIND ID Berhasil Pangkas Emisi Scope 1 21,95% di 2025, Porsi EBT Naik Jadi 42%
Baca Juga: Wamen ESDM Dorong Riset Tutup Missing Link Industri, Impor Capai Rp3.590 Triliun
Ia menekankan bahwa riset dan inovasi domestik harus mampu menembus hambatan teknologi tersebut agar nilai ekonomi dari pengolahan sumber daya alam (SDA) bisa terserap sepenuhnya di dalam negeri.
Yuliot juga meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), perguruan tinggi, dan badan usaha untuk bersinergi melakukan pendalaman struktur industri dalam bentuk pohon industri yang komprehensif.
''Kalau riset ini bisa kita kembangkan, maka manfaat ekonomi baik dari sisi barang modal maupun bahan baku penolong bisa kita serap di dalam negeri," pungkas Yuliot.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: