Di Balik Upaya Diplomasi Amerika Serikat, Perang Iran Berbalik Menjadi Beban Trump
Kredit Foto: Istimewa
Upaya Amerika Serikat (AS) membuka kembali jalur diplomasi dinilai bukan semata-mata langkah untuk mencari perdamaian, melainkan juga karena konflik yang berlangsung tidak berkembang sesuai ekspektasi dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Perang Iran malah menjadi beban dari Washington.
Peneliti Senior di Council on Foreign Relations, Charles Kupchan mengatakan bahwa peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka. Namun, menurutnya, pembahasan mengenai program nuklir masih sangat jauh dari kata selesai dengan Iran.
Baca Juga: Taruhan di Balik Safari, Jalan Cerita Jokowi Akan Tamat Jika Gagal Membesarkan PSI
"Jelas Trump lebih memilih diplomasi daripada melanjutkan perang. Ini bukan perang yang berjalan baik bagi Presiden Amerika Serikat," kata Charles Kupchan, dikutip dari Al Jazeera, Senin (3/8/2026).
Ia menjelaskan bahwa sang presiden hanya memiliki peluang mencapai kesepakatan mengenai Selat Hormuz. Namun untuk penyelesaian isu nuklir, hal tersebut masih menghadapi jalan panjang.
"Apakah saya pikir mungkin ada kerangka kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz? Mungkin saja. Tetapi apakah saya yakin akan ada kesepakatan nyata mengenai isu nuklir? Sama sekali tidak. Itu masih sangat jauh, bahkan belum tentu dapat dicapai," ujarnya.
Kupchan menilai perang telah mengubah posisi tawar Iran di Teluk Persia. Teheran usai perang menurutnya telah menyadari posisi mereka yang kuat karena dekat dengan Selat Hormuz. Mereka menyadari bahwa jalur strategis tersebut merupakan instrumen tekanan yang dapat digunakan dalam menghadapi Amerika Serikat.
Meski demikian, ia tetap melihat adanya ruang kompromi karena kedua negara sama-sama menanggung kerugian akibat perang yang berkepanjangan. Menurutnya, konflik tersebut telah menjadi situasi yang menyakitkan bagi kedua pihak sehingga peluang negosiasi masih terbuka apabila masing-masing bersedia mencari titik temu.
Kupchan juga menyoroti meningkatnya eskalasi konflik dalam beberapa hari terakhir yang dinilai menjadi faktor utama perubahan pendekatan dari Washington. Serangkaian serangan di berbagai kawasan memperlihatkan bahwa perang tidak lagi terbatas pada negara yang terlibat, tetapi mulai memengaruhi stabilitas regional hingga global.
"Itulah sebabnya mereka berusaha mencegah konflik ini terus berlanjut dan menghentikannya sebelum sesuatu yang mengerikan terjadi," kata Kupchan.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim pihaknya akan segera mencapai kesepakatan dengan Iran. Kesepakatan tersebut akan terkait dengan program nuklir negara tersebut dan Selat Hormuz.
Trump mengatakan pembicaraan yang berlangsung akan segera menyelesaikan masalah antara kedua negara. Ia menegaskan bahwa pihaknya masih membuka pintu diplomasi kepada Iran.
Baca Juga: Soal Kabinet Bayangan Era Prabowo, Mahfud MD: Tak Dikenal Secara Konstitusi, Tapi Tidak Dilarang
"Kesepakatan itu sudah di ambang pintu, berkaitan dengan Selat Hormuz. Juga, pada akhirnya, denuklirisasi Iran," kata Trump.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: