Rasio Belanja Negara Terendah di G20, Prabowo Minta Pemerintah Introspeksi Diri
Kredit Foto: YT Sekretariat Kabinet
Pendapatan dan belanja negara menjadi sorotan utama Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Paripurna DPR RI. Agenda pemaparan tersebut berlangsung di Gedung Parlemen pada Rabu, 20 Mei 2026.
Prabowo mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini tercatat sebagai anggota G20 dengan rasio belanja paling rendah. Posisi ini dinilai cukup memprihatinkan bagi sebuah negara dengan kapasitas ekonomi besar.
Presiden kemudian memaparkan data resmi dari International Monetary Fund (IMF) terkait kondisi riil tersebut. Lembaga keuangan dunia itu mencatatkan rasio belanja Indonesia hanya berada di angka 11 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka tersebut tertinggal jauh jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Kamboja mencatatkan rasio belanja sebesar 15 persen, sedangkan Filipina telah mencapai angka 21 persen.
"Indonesia sebagai negara anggota G20, tapi rasio belanja negara kita terhadap produk domestik bruto adalah yang paling rendah di antara negara-negara G20," kata Prabowo, Rabu, dikutip dari YouTube TV Parlemen.
Presiden secara tegas meminta seluruh jajaran pemerintah untuk melakukan introspeksi diri secara mendalam. Pemerintah harus berani menyadari penyebab utama rendahnya pendapatan negara dibandingkan Kamboja dan Filipina.
"Kita harus instropeksi dan sadar, berani bertanya, kenapa kita tidak bisa kelola ekonomi kita sehingga pendapatan negara kita bisa setara dengan negara-negara itu," ujar Prabowo di hadapan para anggota dewan.
Ia lantas membandingkan kembali pendapatan fiskal Indonesia yang masih berada di bawah Malaysia. Persoalan sistemik ini menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera dicari akar masalahnya.
Prabowo mempertanyakan faktor pembeda yang membuat optimalisasi pendapatan negara di tanah air belum berjalan maksimal. "Sekarang pun kita masih di bawah Malaysia, apa yang sebabkan kita tidak mampu? Bedanya apa kita sama orang Malaysia dan Kamboja?" imbuh Presiden.
Dalam kesempatan yang sama, pemerintah secara resmi menetapkan target baru untuk memperbaiki performa fiskal. Pendapatan negara ditargetkan mampu mencapai kisaran 11,82 hingga 12,40 persen terhadap PDB pada tahun 2027 mendatang.
Target baru ini dirancang lebih tinggi dibandingkan dengan capaian pada periode tahun anggaran sebelumnya. Target pendapatan negara untuk tahun 2026 sendiri berada pada kisaran 11,71 hingga 12,31 persen secara *year-on-year* (YoY).
"Pendapatan negara dalam APBN 2027 kami targetkan mencapai kisaran 11,82 hingga 12,40 persen produk domestik bruto kita," ucap Prabowo menjelaskan proyeksi tersebut.
Presiden menambahkan bahwa peningkatan target pendapatan ini salah satunya akan ditopang melalui sektor pajak rakyat. Alokasi dana tersebut nantinya digunakan penuh untuk mendukung berbagai program prioritas serta program vital nasional.
Baca Juga: Bentuk Badan Ekspor, Prabowo Bidik Tambahan Devisa Rp2.653 Triliun per Tahun
Pemerintah memproyeksikan belanja negara untuk mendukung program-program strategis tersebut berada di angka yang cukup besar. Rasio belanja negara dipatok mencapai kisaran 13,62 hingga 14,80 persen dari total PDB.
"Untuk mendukung berbagai program prioritas dan program-program vital kita belanja negara akan berada pada kisaran 13,62 hingga 14,80 persen PDB kita," pungkas Prabowo menutup pidatonya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy