Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Siap Lawan! Iran Curiga AS dan Israel Sedang Siapkan Serangan Baru di Balik Negosiasi Nuklir

        Siap Lawan! Iran Curiga AS dan Israel Sedang Siapkan Serangan Baru di Balik Negosiasi Nuklir Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mulai mencurigai gencatan senjata dengan Amerika Serikat hanya dijadikan taktik untuk membuka jalan serangan baru. Kecurigaan itu muncul di tengah negosiasi nuklir yang hingga kini belum menemukan titik temu.

        Sejumlah pejabat senior Iran meyakini Washington dan Israel masih menyimpan agenda militer terhadap Teheran. Mereka menilai situasi tenang saat ini bisa berubah sewaktu-waktu menjadi konflik terbuka.

        Kekhawatiran itu semakin menguat setelah Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menginstruksikan agar uranium yang sudah diperkaya tidak dikirim keluar negeri. Iran menganggap stok uranium tersebut menjadi bagian penting dari pertahanan nasional mereka.

        “Instruksi Pemimpin Tertinggi, dan konsensus di dalam kepemimpinan, bahwa stok uranium diperkaya harus tidak keluar dari negara Iran,” ujar seorang pejabat senior Iran dikutip Reuters. t.

        Para pejabat Iran menilai pengiriman uranium keluar negeri justru akan membuat negara mereka semakin rentan terhadap tekanan militer. Mereka khawatir Iran akan kehilangan daya tawar jika seluruh stok strategis dipindahkan ke luar wilayahnya.

        Menurut data International Atomic Energy Agency atau IAEA, Iran saat ini memiliki sekitar 440 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan 60 persen. Jumlah tersebut menjadi perhatian besar Amerika Serikat dan Israel karena dinilai mendekati level bahan baku senjata nuklir.

        Meski demikian, Iran berulang kali membantah sedang mengembangkan bom nuklir. Pemerintah Teheran menyebut program nuklir mereka murni untuk kepentingan energi dan sipil.

        Di sisi lain, beberapa pejabat Israel mengungkapkan bahwa Presiden Donald Trump telah memberi jaminan kepada Tel Aviv soal uranium Iran. Mereka mengatakan kesepakatan apa pun nantinya harus mencakup pemindahan stok uranium keluar dari Iran.

        Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan disebut masih mempertimbangkan melanjutkan perang apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi. Netanyahu ingin Iran menghentikan pengayaan uranium, mengakhiri dukungan terhadap milisi proksi, dan melemahkan kemampuan rudal balistiknya.

        Di tengah situasi itu, elite Iran mulai semakin curiga terhadap langkah diplomasi Amerika Serikat. Dua sumber internal Iran mengatakan ada keyakinan bahwa gencatan senjata saat ini hanyalah strategi Washington untuk menciptakan celah keamanan sebelum melancarkan serangan baru.

        Negosiator Iran Mohammad Baqer Qalibaf juga mengeluarkan peringatan keras terkait situasi tersebut. Ia menyebut Iran melihat adanya “gerakan jelas dan tersembunyi dari musuh” yang mengarah pada persiapan serangan baru oleh Amerika Serikat.

        Ketegangan semakin memanas setelah Trump kembali melontarkan ultimatum kepada Teheran. Presiden AS itu mengatakan Washington akan bergerak sangat cepat jika Iran gagal memberikan jawaban yang memuaskan dalam negosiasi.

        “Jika kami tidak mendapatkan jawaban yang tepat, semuanya akan berjalan sangat cepat,” kata Trump kepada wartawan. 

        Trump bahkan mengisyaratkan bahwa serangan baru terhadap Iran bisa dilakukan hanya dalam hitungan hari. Meski begitu, ia mengaku masih berharap jalur diplomasi dapat menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan semua pihak.

        Sebelumnya, Trump sempat mengatakan serangan terhadap Iran ditunda setelah adanya permintaan dari Qatar, Saudi Arabia, dan United Arab Emirates. Negara-negara tersebut meminta Washington memberi ruang bagi proses negosiasi yang sedang berlangsung.

        Namun, pemerintah Amerika Serikat tetap menegaskan bahwa opsi militer masih berada di atas meja. Washington disebut siap melancarkan operasi skala besar kapan saja jika pembicaraan dengan Iran berakhir gagal.

        Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel sendiri terus memanas sejak serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran pada Februari lalu. Serangan itu menimbulkan korban sipil dan memperburuk situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.

        Baca Juga: Marco Rubio Sebut Ada Kemajuan Kecil dalam Pembicaraan Iran, Apa Itu?

        Meski sempat tercapai gencatan senjata dua pekan pada April 2026, proses negosiasi berikutnya berjalan alot. Perundingan yang digelar di Islamabad bahkan berakhir tanpa kesepakatan konkret antara kedua pihak.

        Kini, dengan meningkatnya kecurigaan Iran dan ancaman baru dari Amerika Serikat, situasi Timur Tengah kembali berada dalam bayang-bayang konflik besar. Ketegangan soal uranium Iran menjadi titik paling sensitif yang sewaktu-waktu bisa memicu eskalasi baru di kawasan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: