'Katanya Sudah Berakhir,' Senator Amerika Kritik Trump Soal 'Kebohongan' Terkait Perang Iran
Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa konflik dengan Iran telah berakhir mendapat serangan balik dari dalam negeri. Pemimpin Minoritas Senat AS Chuck Schumer menuding pemerintahan Trump menyesatkan publik karena fakta di lapangan menunjukkan perang masih terus berlangsung.
Kritik Schumer mencuat setelah Trump kembali mengumumkan rencana serangan baru terhadap Iran dan bahkan menyatakan keinginannya untuk mengambil alih Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran yang menjadi tulang punggung pendapatan energi negara tersebut.
Baca Juga: Iran Respons Keras Serangan Terbaru Amerika: Kami Akan Ubah Timur Tengah Jadi Neraka
Berbicara di lantai Senat, Schumer menyebut narasi bahwa perang telah berakhir sebagai pernyataan yang bertentangan dengan realitas.
"Selama berminggu-minggu mengenai Iran, Donald Trump, Pete Hegseth dan Marco Rubio bersikeras bahwa perang mereka yang membawa bencana di Iran telah berakhir. Seberapa bodohkah mereka menganggap rakyat Amerika? Pagi ini, Trump mengatakan dia berencana untuk merebut Pulau Kharg, yang bahkan bisa berarti menempatkan pasukan Amerika di sana," kata Schumer, dikutip Jumat (12/6).
Menurut dia, selama pasukan Amerika masih menjadi sasaran serangan dan operasi militer terus berlangsung, tidak ada alasan untuk menyebut konflik telah usai.
“Selama helikopter Amerika masih ditembak jatuh, pangkalan Amerika masih diserang, dan pasukan Amerika masih berada di bawah ancaman, perang itu tidak pernah benar-benar berakhir,” kata Schumer.
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump mengumumkan Amerika akan kembali menggempur Iran dan mengisyaratkan kemungkinan langkah yang lebih agresif terhadap infrastruktur strategis Iran.
Trump bahkan mengungkapkan rencana mengambil alih Pulau Kharg dan sejumlah fasilitas energi Iran sebagai bagian dari tekanan terhadap Teheran. Pulau itu diketahui menangani sebagian besar ekspor minyak mentah Iran dan menjadi aset ekonomi paling vital bagi negara tersebut.
Bagi Schumer, pernyataan Trump justru membuktikan bahwa konflik belum mendekati penyelesaian. Ia menilai pemerintahan Trump selama beberapa pekan terakhir berulang kali menyampaikan pesan bahwa perang telah berakhir, tetapi pada saat yang sama terus melancarkan operasi militer baru dan memperluas target serangan.
Kritik dari kubu Demokrat juga semakin menguat setelah sejumlah senator mempertanyakan dasar hukum klaim Gedung Putih yang menyebut permusuhan dengan Iran telah berakhir.
Mereka menegaskan operasi pemboman, blokade maritim, dan berbagai aksi militer yang masih berlangsung merupakan bukti bahwa status konflik belum benar-benar dihentikan.
Di tengah perdebatan politik di Washington, situasi di kawasan Timur Tengah sendiri masih jauh dari tenang. Amerika dan Iran kembali saling melancarkan serangan dalam beberapa hari terakhir, sementara negosiasi damai yang sempat berjalan belum menghasilkan kesepakatan final.
Baca Juga: 'Pengganggu Timur Tengah Sudah Mati,' Amerika Klaim Iran Kini Cuma Bisa Omong Besar Tanpa Aksi
Kondisi tersebut membuat pernyataan Trump mengenai berakhirnya perang semakin dipertanyakan, terutama ketika pemerintah AS pada saat bersamaan justru menyiapkan opsi militer baru terhadap Iran.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: