Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Gelombang Protes Warga: 'Saya Kecewa Presiden kok Mau Dikendalikan oleh Israel'

        Gelombang Protes Warga: 'Saya Kecewa Presiden kok Mau Dikendalikan oleh Israel' Kredit Foto: Instagram/Israel
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Gelombang penolakan terhadap keterlibatan Amerika Serikat (AS) dalam konflik dengan Iran terus meluas di dalam negeri.

        Berbagai hasil survei terbaru menunjukkan bahwa mayoritas warga AS tidak mendukung kebijakan perang tersebut, yang kini berdampak langsung pada merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Donald Trump.

        Jajak pendapat terbaru yang dirilis oleh New York Times/Siena mencatat sebanyak 64 persen responden meyakini bahwa keputusan AS untuk berperang dengan Iran adalah langkah yang salah. Hasil ini sejalan dengan berbagai temuan dari lembaga survei lainnya di seluruh negeri.

        Selain memicu penolakan dari basis pemilih independen dan kelompok muda Partai Republik yang skeptis terhadap pembengkakan biaya perang jangka panjang, kebijakan ini juga menuai kritik tajam terkait pengaruh politik luar negeri.

        "Saya kecewa terhadap presiden kok mau dikendalikan oleh Israel," ujar Rosa King (45), seorang pekerja kantoran di pinggiran Washington DC, dikutip dari Xinhua.

        Sentimen serupa diungkapkan oleh Brad Garcia (34), seorang karyawan dealer mobil setempat, yang menilai Israel memiliki pengaruh yang terlalu besar terhadap kebijakan domestik AS.

        Dampak ekonomi dari konflik tersebut juga mulai dirasakan masyarakat. Krisis kian menekan kondisi ekonomi warga setelah jalur pengiriman di Selat Hormuz terganggu. Akibatnya, harga bahan bakar minyak (BBM) domestik di AS dilaporkan melonjak hingga 50 persen.

        Imbas inflasi energi dan belum jelasnya tujuan strategis perang membuat tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap kinerja Presiden Donald Trump merosot tajam ke titik terendah.

        Analis senior dari Brookings Institution, Darrell West, menilai pemerintah telah salah mengalkulasi dampak ketegangan geopolitik tersebut sejak awal.

        "Trump mengira Iran akan menjadi kemenangan yang cepat dan mudah, dan dia dapat bernegosiasi dengan para pemimpin baru di sana. Namun, tidak satu pun dari hal itu menjadi kenyataan," kata Darrell.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: