Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Influencer Narasikan Rupiah Melemah Dapat Menguntungkan RI, Bagaimana Faktanya?

        Influencer Narasikan Rupiah Melemah Dapat Menguntungkan RI, Bagaimana Faktanya? Kredit Foto: Antara/Rivan Awal Lingga
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Chief Economist PermataBank, Josua Pardede, mengkritik narasi yang beredar di media sosial menyebut pelemahan nilai tukar rupiah dapat memberikan keuntungan bagi perekonomian Indonesia melalui peningkatan ekspor. 

        Josua menilai pernyataan tersebut merupakan kesimpulan yang keliru sehingga dapat menyesatkan masyarakat

        “Pelemahan rupiah ini bisa mendukung perekonomian kita melalui penguatan ekspor ya, ini sangat keliru, totally wrong ya,” kata Josua dalam Media Briefing di Makassar, dikutip Senin (25/5/2026).

        Josua menegaskan, pandangan tersebut tidak sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi nasional.  

        Ia menjelaskan, secara struktular pelemahan rupiah bisa menguntungkan sektor komoditas yang berorientasi ekspor. Pendapatan eksportir yang diterima dalam dolar AS akan meningkat ketika dikonversi ke rupiah. Namun, kondisi tersebut tidak mencerminkan keseluruhan struktur ekonomi Indonesia.

        “Influencer juga yang dia mengatakan jelas bahwa It’s good to have weakening rupiah, jelas-jelas dia mengatakan itu, karena akan bisa mendorong ekspor... intinya adalah itu suatu hal yang keliru, karena kalau kita bicara secara struktural fundamental kita, ekonomi kita it's good ya kalau kita bicara si pengekspor komoditas ya memang pasti akan sangat diuntungkan,” jelasnya. 

        Sementara itu, sektor hilir, terutama industri manufaktur, justru menghadapi tekanan ketika nilai tukar rupiah melemah. Sebab, sebagian besar industri nasional masih mengandalkan impor bahan baku dan komponen antara dari luar negeri.

        Ketika rupiah terdepresiasi, biaya impor menjadi lebih mahal sehingga meningkatkan biaya produksi dan menekan margin keuntungan perusahaan.

        “Kalau kita bicara industri manufaktur yang mesti mengimpor dulu bahan baku, ini pasti akan memberatkan,” ucapnya.

        Lebih lanjut, Josua menilai dunia usaha tidak membutuhkan nilai tukar yang terus melemah maupun menguat secara berlebihan. Yang paling penting bagi pelaku usaha adalah stabilitas nilai tukar agar perencanaan bisnis dapat dilakukan dengan lebih akurat.

        “Yang juga diharapkan oleh para pelaku usaha pun juga adalah stabilitas, karena bagi para pebisnis yang diharapkan adalah dia menge-set bagi yang mau impor tiga bulan lagi, enam bulan lagi,” jelasnya.

        Baca Juga: OJK Warning Pelemahan Rupiah Bisa Tekan Industri Pindar

        Baca Juga: Rupiah Terancam Jebol Rp18.000? Pengamat Bongkar Sinyal Bahaya Pekan Ini

        Karena itu, ia menegaskan tugas utama Bank Indonesia adalah menjaga stabilitas nilai tukar, bukan mengarahkan rupiah ke level tertentu. Menurutnya, anggapan bahwa Indonesia secara keseluruhan memperoleh manfaat dari pelemahan rupiah merupakan pandangan yang tidak sesuai dengan struktur ekonomi nasional saat ini.

        “Intinya, itu adalah pernyataan menyesatkan. Kalau kita bicara bahwa Indonesia diuntungkan dengan adanya pelemahan rupiah, karena pada umumnya manufaktur kita lebih banyak mengimpor bahan baku,” pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Cita Auliana
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: