Minta Dunia Tekan Proyek Nuklir Pyongyang, Korea Selatan Bangun Kapal Selam Nuklir Atas Izin Trump
Kredit Foto: Reuters/US Army/Ken Scar
Ancaman program nuklir Korea Utara kembali menjadi perhatian utama Korea Selatan. Pemerintah Korea Selatan menilai perkembangan kemampuan nuklir Pyongyang kini menjadi tantangan paling mendesak terhadap sistem nonproliferasi dunia.
Wakil Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Jeong Yeon-doo, meminta masyarakat internasional segera mengambil tindakan untuk menghadapi perkembangan program nuklir Korea Utara. Ia juga secara khusus mendesak Rusia menghentikan kerja sama militer dengan Pyongyang karena dinilai melemahkan resolusi Dewan Keamanan PBB dan mengganggu rezim nonproliferasi internasional.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran tersebut, Korea Selatan mengumumkan rencana pengembangan kapal selam bertenaga nuklir pada Selasa (26/5/2026). Langkah itu diposisikan sebagai bagian dari penguatan kemampuan pertahanan untuk menghadapi ancaman rudal dan sistem nuklir berbasis kapal selam milik Korea Utara.
Kementerian Pertahanan Korea Selatan memperkirakan kapal selam bertenaga nuklir pertama akan diluncurkan pada pertengahan 2030-an dan mulai dioperasikan pada akhir dekade yang sama.
Pengumuman ini menjadi pernyataan resmi pertama pemerintah Korea Selatan terkait proyek tersebut sejak Presiden Lee Jae Myung sebelumnya meminta izin kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pertemuan Oktober 2025 lalu guna memperoleh pasokan bahan bakar untuk kapal selam nuklir.
Menurut Kementerian Pertahanan, kapal selam bertenaga nuklir memiliki kemampuan operasional lebih unggul dibandingkan kapal selam diesel-elektrik konvensional. Teknologi tersebut memungkinkan operasi lebih lama di bawah air serta kemampuan manuver yang lebih tinggi.
Meski mengembangkan sistem propulsi nuklir untuk pertahanan, pemerintah Korea Selatan menegaskan tidak akan mengembangkan senjata nuklir. Seoul juga memastikan tetap menjalankan kewajiban nonproliferasi nuklir dalam pengadaan serta pengelolaan uranium berpengayaan rendah yang akan digunakan sebagai bahan bakar kapal selam.
Baca Juga: Pemerintah Turunkan Pajak Penulis dari 6 Persen jadi 1,5 Persen, Purbaya: Supaya Aktif Menulis
Seluruh proses pengembangan hingga pembangunan kapal selam akan dilakukan di dalam negeri. Kebijakan ini diambil untuk menjaga kemandirian sekaligus memastikan stabilitas dalam pengadaan, pemeliharaan, dan perbaikan sistem.
Dalam rapat kabinet sebelumnya, Presiden Lee Jae Myung juga menekankan perlunya percepatan pemanfaatan kecerdasan buatan, teknologi drone, dan pengembangan kapal selam bertenaga nuklir sebagai bagian dari aset strategis pertahanan masa depan Korea Selatan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: