HSBC Siapkan Kredit Hijau US$$4 miliar, Indonesia Jadi Target Utama
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
HSBC Tiongkok meluncurkan fasilitas kredit keberlanjutan dan transisi (Sustainability and Transition Credit Facility) senilai US$4 miliar untuk mendukung ekspansi perusahaan Tiongkok di sektor energi bersih dan rendah karbon di pasar internasional. Indonesia menjadi salah satu target utama penyaluran fasilitas kredit tersebut.
Fasilitas kredit menyediakan pembiayaan bagi perusahaan Tiongkok yang memenuhi syarat, dari berbagai sektor, termasuk energi terbarukan, transportasi elektrik, pusat data, dan kecerdasan buatan (AI).
Presiden Direktur HSBC Indonesia, Stuart Rogers, mengatakan Indonesia berpotensi meraih untung dari meningkatnya suplai energi bersih, seiring dengan fakta bahwa 91% proyek tenaga angin dan surya yang baru beroperasi pada tahun 2024 lebih murah dibandingkan harga bahan bakar fosil termurah dunia.
"Transisi energi di Indonesia merupakan salah satu peluang investasi energi bersih terbesar di kawasan, dan skala pembiayaan yang dibutuhkan untuk memenuhi target 2030 sangat signifikan," kata Stuart dalam keterangan resmi, Jakarta, Kamis (28/5/2026).
Tiongkok menyumbang sekitar 47% dari ekspor teknologi bersih (cleantech) global, dan sekitar dua pertiga dari ekspor tenaga surya dan baterai global. Selain itu, penjualan kendaraan listrik diperkirakan mencapai 26 juta unit di seluruh dunia pada tahun 2026, dan penggunaan tenaga listrik dari pusat data global diproyeksikan meningkat sekitar dua kali lipat dari sekitar 485 TWh pada tahun 2025 menjadi 945 TWh pada tahun 2030.
Ekspansi pasar ini ditopang oleh perjanjian dagang ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) 3.0 Upgrade Protocol, yang ditandatangani di Kuala Lumpur pada Oktober 2025. Perjanjian dagang ini untuk pertama kalinya memperluas kerja sama perdagangan Tiongkok-ASEAN ke sektor ekonomi hijau, ekonomi digital, dan konektivitas rantai pasok.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan peluang investasi energi bersih paling signifikan di Asia Tenggara. Kebutuhan pendanaan diproyeksikan sekitar USD 97 miliar untuk mencapai target iklim Indonesia tahun 2030, sebagaimana tertuang dalam Comprehensive Investment and Policy Plan (CIPP) dari Just Energy Transition Partnership (JETP).
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru Indonesia tahun 2025 menargetkan pengembangan 42.569 MW kapasitas energi terbarukan baru pada tahun 2034, lebih dua kali lipat dari kapasitas dalam rencana sebelumnya, dengan target penyimpanan energi yang diperkenalkan untuk pertama kalinya.
Lebih lanjut, Indonesia dan Tiongkok juga sepakat untuk memperdalam kerja sama transisi energi dalam beberapa tahun terakhir, dengan kemitraan yang melampaui perdagangan dan infrastruktur tradisional, yakni mencakup pengembangan energi terbarukan, rantai pasok baterai, produksi kendaraan listrik, dan sistem energi digital.
Baca Juga: OCBC Indonesia Akuisisi Bisnis Wealth HSBC, AUM Senilai Rp89,8 Triliun
Baca Juga: Inovasi Muda Gandeng Majalengka Garap Green Jobs
Keselarasan prioritas kebijakan ini mendukung fasilitas kredit terbaru HSBC yang dirancang untuk membantu menyalurkan pendanaan ekonomi hijau dari Tiongkok ke pasar seperti Indonesia.
"HSBC akan memberikan perluasan limit kredit bagi perusahaan yang memenuhi syarat, menyederhanakan proses persetujuan kredit, serta mengembangkan solusi keuangan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing bisnis," tuturnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: