Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Inflasi RI Diprediksi Tetap Jinak Meski Dunia Dihantam Krisis Energi

Inflasi RI Diprediksi Tetap Jinak Meski Dunia Dihantam Krisis Energi Kredit Foto: Azka Elfriza
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dunia saat ini menghadapi tantangan krisis energi global yang berisiko menekan pertumbuhan ekonomi dan memicu inflasi, termasuk di Indonesia.

Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research, Pranjul Bhandari, mengatakan kondisi krisis energi kali ini berbeda dibandingkan sebelumnya karena dipicu berbagai tantangan sekaligus, mulai dari lonjakan harga hingga ancaman terhadap ketersediaan pasokan energi. Situasi tersebut dinilai semakin kompleks dengan potensi gangguan pada jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz.

“Tantangan dan guncangan energi saat ini menurut saya merupakan multi-channel shock. Mengapa ini berbeda? Karena bukan hanya soal harga energi, tetapi juga soal kuantitas energi. Apakah akan ada cukup minyak? Apakah akan ada cukup gas? Apakah akan ada cukup pasokan industri? Saya rasa itu semua menjadi tantangannya,” ujar Pranjul dalam acara HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook Q2-2026, Kamis (23/4/2026).

Menurutnya, karakter krisis yang menyentuh sisi harga sekaligus volume pasokan tersebut berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap perekonomian Indonesia.

Meski demikian, Pranjul menilai inflasi di Indonesia masih relatif terjaga dalam skenario dasar. Ia memperkirakan harga minyak berada di kisaran US$80 per barel sepanjang tahun ini, yang dinilai masih dapat ditoleransi oleh perekonomian domestik.

“Jika harga minyak berada di sekitar US$80 per barel dan dalam satu bulan kondisi mulai normal kembali, maka perkiraan saya inflasi akan tetap berada di bawah 3,5%, yang masih dalam rentang toleransi Bank Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga: Inflasi Maret 2026 Terkendali di 3,48%, BI Yakin Tetap Stabil

Baca Juga: Inflasi Turun Saat Lebaran, Pemerintah Klaim Kebijakan Berhasil Jaga Harga

Bahkan, inflasi diperkirakan tetap berada dalam target Bank Indonesia sebesar 2,5% plus minus 1%, selama tekanan harga energi tidak berlangsung berkepanjangan.

“Salah satu alasannya adalah adanya subsidi energi yang memastikan harga-harga tidak naik. Itu yang menjaga inflasi tetap rendah,” kata Pranjul.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: