Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Buntut Isu Dicoret dari Calon Paskibraka Nasional, Siswi Makassar Kini Malah Ditawari Beasiswa

        Buntut Isu Dicoret dari Calon Paskibraka Nasional, Siswi Makassar Kini Malah Ditawari Beasiswa Kredit Foto: Sekretariat Presiden
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Siswi asal Makassar Cathlyn Yvaine Lesmana mendapat dukungan beasiswa kuliah dari Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (INTI). Kabar tersebut mencuat setelah dirinya dikabarkan dicoret dari calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional.

        Tawaran pendidikan tersebut diberikan usai Cathlyn disebut menjadi korban diskriminasi saat proses seleksi. Salah satu faktor dugaan diskriminasi yang dialami korban berkaitan dengan masalah penguasaan bahasa daerah.

        Sekretaris Jenderal PP Perhimpunan INTI Hardy Stefanus memberikan tanggapan resmi mengenai permasalahan tersebut. Dirinya menyatakan bahwa pihak organisasi menaruh perhatian besar terhadap proses seleksi tingkat nasional tersebut.

        Hardy menegaskan seleksi Paskibraka sudah seharusnya dapat berlangsung secara objektif serta terbuka. Pihak pusat juga telah berkoordinasi dengan Pengurus Daerah Perhimpunan INTI Sulawesi Selatan.

        Koordinasi eksternal tersebut melibatkan organisasi sayap Generasi Muda Indonesia Tionghoa (GEMA INTI). Terkait langkah awal organisasi Hardy Stefanus memberikan penjelasan mengenai komunikasi yang dibangun.

        “Sejak awal kami sudah berkomunikasi agar proses seleksi Paskibraka ini berjalan secara adil, transparan, dan menjunjung tinggi nilai persatuan serta kesetaraan bagi seluruh anak bangsa,” ujar Hardy.

        Persoalan ini dinilai bukan sekadar menyangkut tahapan seleksi teknis para peserta. Masalah tersebut juga dianggap telah menyentuh nilai keberagaman serta kesempatan bagi generasi muda.

        Hardy menambahkan bahwa ada nilai mendasar yang harus dipertahankan dalam kehidupan bernegara. Dirinya memberikan penekanan mengenai rasa keadilan di dalam masyarakat.

        “Ini bukan hanya soal seleksi, tetapi juga soal rasa keadilan dan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang harus kita jaga bersama,” ucap Hardy.

        Perhimpunan INTI juga memutuskan memberi tawaran beasiswa serupa kepada siswi lain. Bantuan pendidikan tinggi itu turut ditawarkan kepada peserta seleksi bernama Meivylicha Putri Aurelia Kamal.

        Pemberian bantuan kepada kedua siswi tersebut diklaim sebagai bentuk dukungan moral. Hardy menjelaskan tujuan utama pemberian fasilitas beasiswa kuliah dari organisasi tersebut.

        “Ini adalah bentuk dukungan moral. Kami ingin memastikan bahwa pengalaman ini tidak melemahkan semangat mereka, justru menjadi penguat untuk terus berprestasi,” tutur Hardy.

        INTI tetap meminta masyarakat untuk menghormati seluruh kewenangan panitia seleksi. Hormat tersebut juga harus diberikan kepada lembaga terkait yang berwenang mengurus Paskibraka.

        Namun Hardy menegaskan bahwa asas keterbukaan informasi kepada publik tetap sangat diperlukan. Hal tersebut bertujuan agar tidak muncul mosi tidak percaya dari masyarakat.

        “Proses ini perlu dijelaskan secara proporsional dan transparan agar kepercayaan publik tetap terjaga,” pungkas Hardy.

        Nama Cathlyn menjadi sorotan publik setelah muncul kabar pencoretan dari posisi tiga besar. Posisi tersebut merupakan daftar calon utusan putri Sulsel yang akan berangkat ke Jakarta.

        Informasi yang beredar menyebut posisi Cathlyn digantikan oleh siswi asal Jeneponto. Siswi pengganti tersebut dikabarkan tidak masuk dalam peringkat 10 besar seleksi.

        Isu lain yang ikut mencuat ke publik adalah dugaan diskriminasi etnis. Polemik mengenai dugaan sentimen etnis tersebut berkembang luas di berbagai platform media sosial.

        Baca Juga: BPIP Bantah Isu Diskriminasi dalam Seleksi Paskibraka Sulawesi Selatan

        Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Sulawesi Selatan Bustanul Arifin segera merespons. Dirinya membantah keras berbagai tudingan miring yang beredar di media sosial.

        Bantahan tersebut meliputi isu diskriminasi etnis dalam tubuh panitia seleksi. Bustanul juga menepis kabar mengenai permasalahan kemampuan Cathlyn dalam berbahasa daerah.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Christian Andy
        Editor: Christian Andy

        Bagikan Artikel: