Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Industri Mamin jadi Tulang Punggung Manufaktur, Kontribusi ke PDB Capai 38,35 Persen

        Industri Mamin jadi Tulang Punggung Manufaktur, Kontribusi ke PDB Capai 38,35 Persen Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Industri makanan dan minuman (Mamin) masih menjadi salah satu penopang utama sektor manufaktur nasional. Pada triwulan I 2026, sektor ini tercatat menyumbang 38,35 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan.

        Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan peran strategis industri pangan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus menjadi penggerak hilirisasi berbasis bahan baku lokal.

        Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, industri pangan tidak hanya berkontribusi terhadap perekonomian, tetapi juga memiliki peran penting dalam pemberdayaan masyarakat melalui jutaan unit usaha yang tersebar di berbagai daerah.

        "Pembinaan IKM pangan menjadi tugas bersama karena jumlahnya mencapai 2,07 juta unit usaha atau 46,63 persen dari total unit usaha IKM nasional yang tersebar di seluruh Indonesia," kata Agus dalam keterangannya.

        Selain kontribusi terhadap PDB industri pengolahan, kinerja ekspor sektor pangan juga menunjukkan tren positif. Pada Februari 2026, nilai ekspor industri pangan mencapai 4,47 miliar dollar AS atau berkontribusi sebesar 24,07 persen terhadap total ekspor industri pengolahan.

        Baca Juga: Buntut Geopolitik Global, Kemenperin Soroti Dampak ke Biaya Produksi

        Menurut Agus, capaian tersebut mencerminkan daya tahan sektor pangan di tengah berbagai tantangan ekonomi global.

        "Kinerja tersebut menunjukkan bahwa industri pangan merupakan salah satu sektor yang paling resilien dan memiliki prospek yang sangat baik untuk terus berkembang," ujarnya.

        Pemerintah menilai penguatan industri kecil dan menengah (IKM) pangan menjadi salah satu kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan sektor tersebut. Saat ini, IKM pangan menjadi kelompok usaha terbesar dalam ekosistem IKM nasional.

        Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Reni Yanita mengatakan, perubahan perilaku konsumen juga membuka peluang baru bagi pelaku usaha pangan untuk berkembang.

        Menurut dia, konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan cita rasa produk, tetapi juga semakin memperhatikan aspek keamanan pangan, kandungan gizi, hingga keunikan produk yang dikonsumsi.

        "Produk pangan saat ini dituntut mampu menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang. Karena itu, inovasi dan konsistensi kualitas menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing," kata Reni.

        Baca Juga: Penjualan Mobil Listrik Melonjak 95 Persen, IKM Lokal Diajak Ikut Terlibat

        Kementerian Perindustrian pun terus menjalankan berbagai program pembinaan bagi IKM pangan, mulai dari pendampingan sertifikasi keamanan pangan, penguatan kemitraan usaha, fasilitasi akses pasar domestik dan ekspor, hingga transformasi industri berbasis teknologi.

        Pemerintah berharap langkah tersebut dapat memperkuat daya saing industri pangan nasional sekaligus mendorong lebih banyak pelaku IKM untuk naik kelas dan memperluas pasar, baik di dalam negeri maupun mancanegara.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Fajar Sulaiman

        Bagikan Artikel: