Gerindra Puji Sikap Elegan Megawati ke Prabowo, Etika Dino Patti Djalal Dipertanyakan
Kredit Foto: Andi Hidayat
Momen keakraban antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri saat peringatan Hari Lahir Pancasila masih menjadi perbincangan hangat.
Di tengah sorotan publik terhadap kebersamaan dua tokoh bangsa tersebut, Partai Gerindra justru melontarkan pujian kepada Megawati sekaligus menyentil kritik yang sebelumnya disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal.
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Habiburokhman menilai Megawati telah menunjukkan sikap kenegarawanan yang elegan. Menurutnya, meski PDI Perjuangan tidak berada dalam koalisi pemerintahan, Megawati tetap menjaga hubungan baik dengan Presiden Prabowo Subianto.
Peristiwa yang dimaksud terjadi seusai upacara Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Jakarta, Senin (1/6). Saat berjalan menuju area tempat para siswa sekolah dasar berkumpul, Megawati terlihat meminta untuk digandeng oleh Prabowo. Suasana pun berlangsung santai dan penuh keakraban.
Habiburokhman menilai sikap tersebut mencerminkan penghormatan Megawati terhadap kepala negara yang sedang menjabat.
"Sebagai Presiden yang pernah menjabat ya, beliau (Megawati) menghormati Pak Prabowo sebagai Presiden yang saat ini menjabat," kata Habiburokhman di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (2/6).
Baca Juga: Gerindra Soal Kritik Dino Patti Djalal ke Prabowo: Serangan Politiknya Membabi Buta!
Menurutnya, meski sejumlah kader PDI Perjuangan kerap melontarkan kritik kepada pemerintahan Prabowo, Megawati tetap menjaga komunikasi dan hubungan baik demi merawat persatuan bangsa serta menghindari polarisasi politik yang berlebihan.
Ia bahkan menyebut tindakan Megawati sebagai contoh sikap politik yang patut dihormati.
"Ini contoh yang elegan dari Bu Mega, kita sangat hormat, ya kita sangat respek contoh yang dilakukan oleh Ibu Mega ini," ujarnya.
Di sisi lain, Habiburokhman membandingkan sikap Megawati tersebut dengan kritik yang belakangan disampaikan Dino Patti Djalal terkait intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo.
Sebelumnya, Dino menilai Prabowo terlalu sering melakukan perjalanan ke luar negeri. Ia juga menyoroti besarnya biaya yang harus dikeluarkan negara karena kunjungan tersebut melibatkan rombongan dalam jumlah besar.
Menanggapi hal itu, Habiburokhman menegaskan bahwa seorang mantan pejabat negara seharusnya memberikan ruang kepada pemerintahan yang sedang bekerja untuk menjalankan tugasnya.
Meski masa jabatan Dino sebagai Wakil Menteri Luar Negeri hanya berlangsung selama tiga bulan, menurut Habiburokhman statusnya tetap sebagai mantan pejabat tinggi negara yang seharusnya menjaga etika politik.
"Menurut saya, ada etika di kalangan orang yang pernah menjabat. Artinya memberikan kesempatan kepada orang yang saat ini menjabat untuk bekerja, menghormati ya," terangnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kritik dari mantan pejabat terhadap penerusnya justru bisa menjadi bumerang apabila masyarakat mulai membandingkan kinerja keduanya.
Baca Juga: PDIP Ikut 'Nimbrung' Perdebatan Seskab Teddy vs Dino Patti Djalal, Masuk Tim Mana?
"Di negara negara maju, mantan pejabat membatasi diri untuk mengkritik kinerja para penerus atau penggantinya. Hal tersebut didasarkan pada sikap menghormati orang yang sedang bekerja. Kritik mantan pejabat kepada penerusnya bahkan bisa menjadi bumerang jika publik membanding kinerja si mantan dengan yang sedang menjabat," terangnya.
Tak berhenti di situ, Habiburokhman juga menilai kritik Dino tidak dibangun berdasarkan data yang akurat dan cenderung hanya menyerang pemerintahan.
"Kritik beliau tidak produktif karena tidak berbasis info yang akurat, bahkan ada tendensi kritik beliau sebagai serangan politik yang membabi buta dan sekadar mengolok-olok pemerintahan Pak Prabowo," ungkapnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri