- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
FINI Ungkap Weda Bay Nickel Pangkas 65% Pegawai Imbas Kuota RKAB Digunting
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, mengatakan PT Weda Bay Nickel (WBN) mengalami kehabisan stok bijih nikel akibat pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada Mei 2026. Alhasil, perusahaan yang beroperasi Halmahera, Maluku Utara, tersebut memangkas sekitar 65% dari total pegawainya.
Adapun jumlah RKAB nikel yang disetujui pemerintah pada 2026 berkisar 260-270 juta ton. Jumlah tersebut turun dibandingkan realisasi produksi 2025 yang mencapai 379 juta ton.
''Kuota mereka sudah habis di bulan Mei kemarin sehingga mereka harus melakukan pengurangan pegawai kurang lebih 65 persen dari 20.000 kurang lebih lah,'' kata Arif dalam pelatihan jurnalistik From Mine to Market di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Arif menyebut kuota RKAB PT WBN pada 2025 mencapai 42 juta ton. Namun, pada 2026 jumlah tersebut dipangkas menjadi hanya 12 juta ton.
''Jadi dampaknya sudah mulai terasa, mulai terasa dan mudah-mudahan ini juga menjadi pesan untuk pemerintah,'' kata Arif.
Tak hanya WBN, dampak pemangkasan kuota produksi yang berujung pada kelangkaan stok bijih nikel juga mulai dirasakan sejumlah perusahaan smelter lainnya.
Arif menyebut mayoritas pabrik pengolahan dan pemurnian nikel berpotensi kehabisan stok bijih pada akhir Juni 2026. Meski pemerintah telah memberikan sinyal adanya ruang untuk pengajuan revisi RKAB pada tahun ini, industri masih menghadapi sejumlah tantangan lain.
''Biasanya kalau di Indonesia bagian timur bulan Agustus, September itu juga sudah masuk musim hujan, akan sulit juga untuk perusahaan-perusahaan tambang untuk ramp up production pada saat musim hujan. Jadi banyak sekali faktor yang bisa mengganggu dari keberlangsungan industri ini,'' jabarnya.
Ia memperkirakan tingkat utilisasi fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel di Indonesia akan berkurang sekitar 25%-30% pada tahun ini.
''Kemampuan produksi kita tahun ini sebetulnya kan 2,7 juta ton ya, tapi mungkin kita hanya berada di kisaran antara 2 juta sampai 2,2 juta saja,'' tandasnya.
Baca Juga: Harga Nikel Nyaris Sentuh US$20 Ribu, DEN Klaim Kebijakan RKAB Mulai Berbuah Hasil
Baca Juga: Shanghai Market Sebut RI Tak Bisa Atur Harga Nikel Dunia
Sementara itu, Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Septian Hario Seto, mengatakan alasan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), melakukan pemangkasan produksi merupakan langkah proaktif untuk merespons kekhawatiran pasar terhadap ekspansi produksi nikel Indonesia.
Peningkatan kapasitas pengolahan nikel di Indonesia, kata Seto, sempat menekan harga nikel hingga berada di bawah US$15.000 per ton pada kuartal III dan IV 2025.
Meski demikian, ia membenarkan bahwa pemangkasan produksi yang dilakukan pemerintah tidak diterapkan secara merata kepada seluruh perusahaan nikel.
''Kalau boleh melihat secara pribadi, sebenarnya pemotongan RKAB-nya nggak sama gitu ya across tambang jadi ada yang besar ada yang kecil gitu kan, ada yang bertambah segala. Cuma kalau saya lihat spesifik yang terdampak cukup besar saya lihat WBN ya,'' tutup Seto.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: