Kredit Foto: Istimewa
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, mengatakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah mendorong lonjakan harga sulfur yang menjadi salah satu bahan baku utama bagi industri pengolahan nikel berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL) di Indonesia.
Menurut Arif, sulfur merupakan komponen penting dalam proses pengolahan bijih nikel limonit atau bijih nikel berkadar rendah. Karena itu, kenaikan harga sulfur langsung berdampak terhadap biaya produksi smelter HPAL.
''Harga sulfur hari ini itu 1.200. Pada bulan April tahun lalu harganya hanya 250 saja,'' jelas Arif dalam pelatihan jurnalistik From Mine to Market di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Kondisi tersebut semakin menjadi perhatian mengingat sebagian besar kebutuhan sulfur industri nikel nasional masih bergantung pada pasokan dari TimurĀ
''84 persennya itu didatangkan dari Timur Tengah di tahun 2025 ya kami industri harus melakukan impor kurang lebih 5,8 juta ton dan itu 80 persennya dari Timur Tengah,'' lanjut Arif.
Selain menghadapi lonjakan harga sulfur, industri nikel juga dibayangi kenaikan Harga Patokan Mineral (HPM). Menurut Arif, perubahan HPM membuat harga bijih nikel ikut meningkat sehingga menambah beban biaya bagi smelter.
''Harga dari bahan baku bijih nikel sendiri karena HPM berubah sehingga harga bahan baku menjadi tinggi,'' ungkapnya.
Tekanan tersebut terjadi di tengah kebijakan pemerintah memangkas kuota produksi nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Pada tahun ini pemerintah menetapkan kuota produksi nikel sebesar 260-270 juta ton, turun dibandingkan realisasi produksi 2025 yang mencapai 379 juta ton.
Baca Juga: FINI Ungkap Weda Bay Nickel Pangkas 65% Pegawai Imbas Kuota RKAB Digunting
Baca Juga: Sebagian Smelter NPI di Weda Bay Akan Ditutup, Beralih ke Aluminium
Arif memperkirakan stok bijih nikel di sejumlah smelter akan semakin terbatas pada akhir Juni 2026. Meski pemerintah telah memberikan ruang untuk pengajuan revisi RKAB pada tahun ini, industri masih menghadapi tantangan lain yang berpotensi menghambat peningkatan produksi.
''Biasanya kalau di Indonesia bagian timur bulan Agustus, September itu juga sudah masuk musim hujan, akan sulit juga untuk perusahaan-perusahaan tambang untuk ramp up production pada saat musim hujan. Jadi banyak sekali faktor yang bisa mengganggu dari keberlangsungan industri ini,'' jabarnya.
Selain bahan baku, industri juga menghadapi kenaikan harga bahan bakar. Arif menyebut harga solar yang digunakan pelaku industri saat ini telah meningkat dua kali lipat dibandingkan beberapa bulan lalu.
''Solar dulu kami belinya beberapa bulan lalu masih 15.000 sekarang sudah 30.000,'' tutupnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: