China dan Hongkong Tak Bisa Akses Situs IPO SpaceX Milik Elon Musk
Kredit Foto: Unsplash/SpaceX
Rencana penawaran umum perdana saham (IPO) SpaceX makin menarik perhatian setelah situs resmi dan dokumen pemasaran perusahaan disebut tidak dapat diakses di China daratan maupun Hong Kong.
Mengutip Money, akses ke situs SpaceX yang memuat materi pemasaran IPO terpantau berjalan normal di sebagian besar pasar utama Asia. Namun, ketika diakses dari China daratan dan Hong Kong pada Jumat, pengguna mendapati pesan "Kesalahan 1009".
Kondisi tersebut berpotensi membatasi partisipasi investor dari kedua wilayah dalam salah satu IPO terbesar yang pernah digelar di dunia.
SpaceX, perusahaan roket, satelit, dan kecerdasan buatan milik Elon Musk, menargetkan penghimpunan dana sebesar 75 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.352,63 triliun. Target tersebut diperkirakan akan memberikan valuasi perusahaan hingga 1,75 triliun dollar AS atau sekitar Rp 31.561,25 triliun.
Prospektus IPO terbaru yang diterbitkan pada Rabu (3/6/2026) menunjukkan skema penawaran saham dengan harga 135 dollar AS per lembar. Dengan harga tersebut, valuasi SpaceX diperkirakan mencapai sekitar 1,77 triliun dollar AS.
Jika target tersebut tercapai, SpaceX akan langsung masuk dalam jajaran 10 perusahaan publik paling bernilai di Amerika Serikat. Pencatatan ini juga berpotensi menjadi debut pasar saham AS pertama yang memiliki nilai lebih dari 1 triliun dollar AS.
Roadshow pemasaran IPO dimulai pada Kamis (4/6/2026) di New York melalui publikasi materi penawaran di situs resmi perusahaan. Dokumen tersebut menjadi referensi penting bagi investor institusi maupun ritel untuk memahami kondisi bisnis dan keuangan calon emiten sebelum melakukan pemesanan saham.
Namun hingga kini belum diketahui secara pasti kapan pembatasan akses mulai diterapkan maupun alasan di balik kebijakan tersebut. SpaceX belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait masalah itu.
Sementara itu, Citigroup yang menjadi salah satu bank utama dalam pengelolaan IPO juga menolak berkomentar. Bank-bank lain yang terlibat dalam proses penawaran, seperti Bank of America, Goldman Sachs, JPMorgan, dan Morgan Stanley, juga belum memberikan respons.
Menurut penyedia layanan keamanan web Cloudflare, pesan "Kesalahan 1009" umumnya menunjukkan bahwa pemilik situs telah memblokir akses dari wilayah tertentu berdasarkan alamat internet protocol (IP).
Presiden Kehormatan Federasi Teknologi Informasi Hong Kong, Francis Fong, menilai pemblokiran semacam itu biasanya merupakan keputusan internal perusahaan.
Direktur Pelaksana Central Asset Investments Hong Kong, Jeffery Chan, mengatakan pembatasan tersebut kemungkinan berkaitan dengan status SpaceX sebagai kontraktor pertahanan Amerika Serikat.
“Bagi investor ritel lokal, mendapatkan bagian langsung dari buku IPO akan sangat sulit. Namun untuk dana institusi regional, kemungkinan besar akan dilakukan melalui bookbuilding standar AS,” kata Chan.
Isu akses investor China terhadap SpaceX memang menjadi sorotan dalam beberapa bulan terakhir. Pada Februari lalu, dua senator Partai Demokrat AS mendesak Pentagon untuk meninjau SpaceX karena adanya kekhawatiran terkait risiko keamanan nasional yang berasal dari kemungkinan akuisisi saham oleh investor China secara diam-diam.
Baca Juga: Valuasi SpaceX Sentuh USD 1,77 Triliun, Elon Musk Berpeluang Jadi Manusia Triliuner Pertama
Meski demikian, Elon Musk tetap memiliki hubungan bisnis yang kuat dengan China melalui keberhasilan operasional pabrik kendaraan listrik Tesla di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.
IPO SpaceX juga berpotensi memperkuat posisi Musk sebagai orang terkaya di dunia. Dengan valuasi perusahaan saat ini, nilai kepemilikan saham Musk di SpaceX diperkirakan mencapai 866,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 15.424 triliun.
Angka tersebut membuka peluang bagi Musk untuk menjadi individu pertama yang memiliki total kekayaan bersih melampaui 1 triliun dollar AS apabila nilai saham perusahaan terus meningkat setelah pencatatan di bursa.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: