Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pahlawan Karbitan dari Silicon Valley, Ketika Reputasi Dipakai untuk Menambal Kegagalan

        Pahlawan Karbitan dari Silicon Valley, Ketika Reputasi Dipakai untuk Menambal Kegagalan Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Dalam beberapa bulan terakhir, muncul cerita yang polanya hampir sama. Ada anak bangsa yang pernah kuliah, magang, atau bekerja di luar negeri—lebih bagus lagi kalau bisa disebut “pernah di Silicon Valley”—lalu memutuskan pulang, namun berakhir di kursi pesakitan di mata hukum.

        Paket narasinya lengkap: foto di media, panggung konferensi, tepuk tangan, kutipan manis, dan satu kalimat yang hampir tidak pernah absen: “Saya pulang untuk membangun negeri.”

        Lalu, sebelum kita sempat bertanya apa yang benar-benar sudah dibangun, gelar pahlawan sudah lebih dulu ditempelkan.

        Padahal, pulang itu bukan prestasi. Pulang adalah keputusan lokasi. Yang layak dirayakan bukan tiket pesawatnya, bukan alamat lama di LinkedIn, bukan logo perusahaan asing di CV, dan bukan cerita nostalgia tentang Silicon Valley. Yang layak dirayakan adalah isi koper intelektual yang dibawa pulang: pengetahuan, disiplin, rekam jejak, keberanian, jaringan, produk, riset, teknologi, tata kelola, dan standar kerja yang benar-benar sudah teruji.

        Kita bisa belajar dari negara yang sudah mengalami gelombang “pulang” ini jauh lebih serius: Tiongkok dan India.

        Di Tiongkok ada istilah haigui, atau “kura-kura laut”, untuk menyebut orang-orang yang belajar dan berkarier di luar negeri lalu kembali membawa pengetahuan, jaringan, dan reputasi. Robin Li belajar dan bekerja di Amerika Serikat sebelum kembali ke Tiongkok untuk membangun Baidu. Charles Zhang memiliki rekam jejak di MIT sebelum membangun Sohu. Dalam dunia AI, Song-Chun Zhu meninggalkan karier akademik yang sangat mapan di UCLA untuk kembali ke Tiongkok dan memimpin lembaga riset AI di Beijing. Mereka tidak pulang membawa cerita. Mereka pulang membawa kapasitas.

        India memiliki contoh Sridhar Vembu. Ia lulusan IIT, meraih gelar doktor dari Princeton, bekerja di Amerika Serikat, lalu membangun Zoho menjadi perusahaan perangkat lunak global. Ia tidak menjadi penting karena pulang. Ia penting karena membangun sesuatu yang nyata, bertahan lama, dan digunakan pasar.

        Ada pelajaran sederhana dari kisah-kisah itu: mereka menjadi kelas dunia terlebih dahulu, baru pulang. Pulang bukan sumber legitimasi. Pulang hanya menentukan di mana hasil dari proses panjang itu akan ditanam.

        Di Indonesia, kita sering terbalik. Kita merayakan kepulangan lebih cepat daripada memeriksa substansi. Kita terpukau pada nama kampus, alamat kerja lama, panggung konferensi, istilah venture capital, istilah startup ecosystem, dan kata sakti Silicon Valley, seolah-olah semua itu otomatis membuktikan kapasitas.

        Lebih buruk lagi, ketika kemudian muncul masalah, narasi yang sama dipakai sebagai tameng. Kritik dianggap tidak paham startup. Pertanyaan tentang tata kelola dianggap anti-inovasi. Kerugian dana publik dibungkus sebagai risiko bisnis biasa. Orang yang bertanya malah dituduh menghambat ekosistem digital.

        Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

        Venture capital memang berisiko. Tidak semua investasi akan berhasil. Banyak startup gagal. Bahkan di Silicon Valleysekalipun, kegagalan adalah bagian dari permainan. Namun, ada perbedaan besar antara risiko bisnis yang sehat dan kegagalan tata kelola. Ada perbedaan besar antara investor privat yang menggunakan uang sendiri dan lembaga investasi yang terhubung dengan BUMN, yang pada akhirnya membawa mandat publik.

        Kalau seorang investor privat salah bertaruh, itu urusan dia, investornya, dan pasar. Namun, jika dana BUMN masuk ke startup bermasalah lalu muncul dakwaan kerugian negara ratusan miliar rupiah, publik berhak bertanya: seperti apa proses due diligence-nya? Siapa yang memverifikasi data? Siapa yang membaca risiko? Siapa yang menyetujui? Siapa yang mengawasi setelah uang masuk? Dan ketika tanda bahaya muncul, siapa yang mengambil tanggung jawab?

        Pertanyaan-pertanyaan seperti itu bukan anti-startup. Itu akal sehat.

        Dalam sejumlah kasus investasi startup bermasalah yang melibatkan dana publik atau entitas yang terhubung dengan BUMN, kita melihat betapa berbahayanya ketika reputasi personal bekerja lebih cepat daripada akuntabilitas institusional. Kita tidak perlu menyebut nama orang, perusahaan, atau lembaganya. Yang perlu diperiksa adalah polanya: ketika narasi “anak bangsa dari ekosistem global” membuat publik lebih mudah memberi kepercayaan, sementara proses verifikasi, pengawasan, dan pertanggungjawaban justru tidak cukup kuat untuk melindungi kepentingan publik.

        Tentu pengadilanlah yang menentukan bersalah atau tidak. Kita tidak perlu mendahului putusan hakim. Namun, publik juga tidak wajib menelan mentah-mentah narasi pembelaan yang seolah-olah membuat semua pertanyaan tentang tata kelola menjadi tidak sah.

        Saya juga tidak sedang mengatakan bahwa setiap orang yang membela pihak tertentu pasti buzzer, atau bahwa setiap pembelaan hukum pasti buruk. Setiap orang berhak membela diri. Setiap penasihat hukum berhak menyampaikan argumentasi. Yang perlu dikritik adalah ketika ruang publik mulai dibanjiri slogan yang membuat pertanyaan tentang tata kelola seolah-olah menjadi serangan terhadap inovasi.

        Pembelaan yang muncul biasanya begini: “Ini cuma keputusan bisnis.” “VC memang high risk.” “Kalau begini, siapa lagi yang berani investasi startup?” “Jangan kriminalisasi inovasi.”

        Kalimat-kalimat itu terdengar masuk akal di permukaan. Bahkan, dalam konteks tertentu, ada benarnya. Keputusan bisnis memang mengandung risiko. Venture capital memang tidak mungkin seratus persen berhasil. Namun, jika kalimat-kalimat itu dipakai untuk menutup pertanyaan tentang proses, verifikasi, fiduciary duty, konflik kepentingan, pengawasan, dan perlindungan dana publik, maka itu bukan lagi pembelaan terhadap inovasi. Itu sudah menjadi upaya mencuci reputasi.

        Kita perlu membedakan keberanian mengambil risiko dengan kecerobohan menggunakan uang publik. Kita perlu membedakan kegagalan bisnis dengan kegagalan governance. Kita perlu membedakan founder visioner dengan operator yang menjual mimpi. Dan kita perlu membedakan investor kelas dunia dengan orang yang hanya pandai membangun panggung.

        Karena substansi tidak tumbuh dalam semalam. Ia menumpuk pelan-pelan, sering kali justru di tempat yang jauh, keras, kompetitif, dan tidak terlalu peduli pada asal-usul kita. Di sanalah seseorang diuji: bukan oleh tepuk tangan nasionalisme, melainkan oleh standar global.

        Lihat Sehat Sutardja. Ia tidak perlu pulang untuk membuktikan bahwa orang kelahiran Jakarta bisa berdiri di pusat industri semikonduktor dunia. Ia membangun Marvell Technology dari California, lalu ikut melahirkan Silicon Box di Singapura. Namanya tidak besar karena pernah berada di Silicon Valley. Ia besar karena membangun sesuatu yang benar-benar digunakan industri.

        Lihat Nelson Tansu. Ia membangun karier akademik di Amerika Serikat, lalu memimpin institusi teknik di Australia. Ia bukan sekadar “pernah di luar negeri”; ia diakui sebagai ilmuwan, pendidik, dan pemimpin akademik.

        Lihat Josaphat Tetuko Sri Sumantyo. Ia berkarya dari Jepang dalam bidang radar, microwave remote sensing, dan synthetic aperture radar. Kontribusinya tidak lahir dari panggung motivasi, melainkan dari laboratorium, paten, publikasi, dan riset panjang.

        Lihat Johny Setiawan, yang berkarier di Jerman dalam dunia astronomi dan pencarian exoplanet. Lihat Helman Sitohang, yang menembus jajaran puncak perbankan investasi global di Asia. Lihat Theresia Gouw, diaspora Indonesia yang ikut membentuk wajah investasi teknologi Silicon Valley. Lihat Anggun, Joey Alexander, NIKI, Rich Brian, dan banyak nama lain yang membawa Indonesia ke arena global tanpa harus selalu pulang untuk meminta tepuk tangan.

        Mereka semua mengingatkan kita pada satu hal: nasionalisme tidak selalu berarti berdiri di dalam batas geografis negara. Kadang-kadang, cara paling jujur untuk membawa nama bangsa adalah dengan bertahan di arena yang paling sulit, lalu menang di sana.

        Maka, pertanyaan untuk mereka yang pulang seharusnya bukan, “Kapan kamu pulang?” Pertanyaannya adalah, “Apa yang sudah kamu buktikan sebelum pulang?”

        Bukan untuk merendahkan kepulangan. Sama sekali bukan. Negeri ini tentu membutuhkan orang-orang terbaiknya kembali. Kita membutuhkan ilmuwan, teknolog, pengusaha, insinyur, seniman, dokter, ekonom, dan profesional global yang bersedia ikut membangun rumah sendiri.

        Namun, bangsa yang sehat harus bisa membedakan antara pulang membawa kapasitas dan pulang membawa cerita.

        Kalau rekam jejaknya tebal, pulang layak dirayakan. Kalau yang dibawa adalah pengetahuan langka, jaringan nyata, teknologi teruji, pengalaman membangun organisasi, keberanian mengambil risiko, dan tata kelola yang sudah ditempa dunia, maka kepulangan itu berharga.

        Namun, kalau rekam jejaknya tipis, pulang tidak otomatis membuat seseorang menjadi pahlawan. Ia hanya sedang berada di rumah. Dan tidak ada yang salah dengan berada di rumah. Yang keliru adalah ketika kita mengobral gelar pahlawan hanya karena seseorang pernah berdiri sebentar di tempat yang terdengar keren.

        Yang lebih keliru lagi adalah ketika gelar pahlawan itu dipakai sebagai tameng saat publik menagih akuntabilitas.

        Contoh terbaik tentang pulang membawa isi adalah B. J. Habibie.

        Sebelum menjadi presiden, Habibie sudah lebih dahulu diakui sebagai teknokrat. Ia lama berkarya di Jerman, di dunia teknologi dirgantara, dan namanya melekat dengan kajian perambatan retak pada struktur pesawat yang membuatnya dikenal sebagai “Mr. Crack”. Reputasi itu tidak dibangun oleh baliho, melainkan oleh kerja teknis yang rumit, panjang, dan sulit dipalsukan.

        Lalu ia pulang, dan ia membawa sesuatu. Ia ikut membangun industri dirgantara Indonesia. Dari rahim ambisi itu lahir N-250 Gatotkaca, pesawat rancangan anak bangsa yang terbang perdana pada 10 Agustus 1995. Apa pun nasib politik dan ekonominya kemudian, N-250 tetap menjadi simbol bahwa mimpi teknologi tinggi pernah dicoba dengan sungguh-sungguh, bukan hanya dibicarakan di seminar.

        Ketika sejarah memanggilnya ke panggung yang lebih berat, Habibie menjadi presiden di tengah krisis 1998. Masa jabatannya singkat, tetapi dalam waktu pendek itu ia memperbaiki fondasi ekonomi, memperkuat nilai mata uang, membuka ruang kebebasan pers, mempercepat pemilu demokratis, membebaskan tahanan politik, membuka sistem multipartai, dan mengambil keputusan besar terkait Timor Timur.

        Tidak semua orang setuju dengan seluruh keputusannya. Bahkan sebagian keputusan itu membuatnya harus membayar harga politik yang mahal. Namun justru di situlah ukuran seorang pemimpin: bukan sekadar dicintai saat pulang, melainkan berani mengambil keputusan ketika tepuk tangan mulai hilang.

        Habibie tidak menjadi besar karena pulang. Ia pulang karena ia sudah besar. Lalu, setelah pulang, ia membuktikan lagi bahwa kebesaran itu tidak berhenti di biografi.

        Itulah standar yang seharusnya kita pakai.

        Kita tidak perlu sinis kepada semua orang yang pulang. Banyak yang sungguh-sungguh ingin berkontribusi. Banyak yang pulang dengan niat baik, kemampuan nyata, dan keberanian memulai dari nol. Mereka perlu disambut, didukung, bahkan diberi ruang.

        Namun, kita juga tidak boleh naif. Niat baik bukan pengganti kompetensi. Narasi pulang bukan pengganti rekam jejak. Logo perusahaan asing di CV bukan pengganti kemampuan membangun. Kata Silicon Valley bukan sertifikat otomatis untuk memimpin masa depan Indonesia. Dan istilah “ekosistem startup” tidak boleh menjadi mantra untuk menghapus pertanyaan tentang akuntabilitas.

        Bangsa ini tidak kekurangan orang yang pulang. Yang kurang adalah orang yang pulang sambil membawa sesuatu yang benar-benar teruji.

        Untuk mereka yang tidak pulang, terima kasih. Terima kasih sudah membawa nama Indonesia ke laboratorium, kampus, studio, perusahaan, panggung, sirkuit, dan ruang-ruang dunia yang tidak mudah ditembus. Kalian bukan anak yang tersesat. Kalian adalah bukti bahwa kontribusi kepada bangsa tidak selalu harus berbentuk kepulangan fisik.

        Untuk mereka yang pulang, selamat datang. Sungguh. Rumah ini membutuhkan orang-orang terbaiknya. Namun, izinkan publik bertanya secara sehat: apa yang dibawa pulang? Teknologi? Produk? Ilmu? Disiplin? Standar? Jaringan? Modal keberanian? Tata kelola? Atau hanya cerita yang manis?

        Dan untuk mereka yang sibuk membela reputasi hanya karena bunyinya indah, mungkin kita perlu bertanya juga: yang sedang dibela itu inovasi atau ilusi?

        Karena reputasi yang asli matang pelan-pelan. Ia dimasak oleh waktu, kerja, kegagalan, pembuktian, dan standar yang tidak memberi diskon hanya karena kita anak bangsa.

        Buah yang matang sungguhan tidak membutuhkan karbit. Dan bangsa yang dewasa adalah bangsa yang bisa membedakan mana buah yang benar-benar matang, mana yang hanya dibuat tampak ranum oleh tepuk tangan, dan mana yang sebenarnya sedang diselamatkan oleh mesin pembentuk opini.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: