Kredit Foto: Istimewa
Kinerja emiten-emiten tambang anggota MIND ID menunjukkan tren positif pada kuartal I 2026. Di tengah tantangan industri dan fluktuasi harga komoditas global, perusahaan-perusahaan dalam holding industri pertambangan BUMN tersebut berhasil mencatatkan peningkatan profitabilitas, memperkuat efisiensi operasional, serta melanjutkan proyek-proyek hilirisasi yang menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang.
Salah satu capaian paling menonjol datang dari PT Timah Tbk (TINS). Emiten timah pelat merah itu membukukan laba bersih sebesar Rp1,50 triliun pada kuartal I 2026, melonjak 1.184% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp117 miliar.
Lonjakan tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan sebesar 161% menjadi Rp5,46 triliun, kenaikan EBITDA sebesar 450% menjadi Rp2,11 triliun, serta arus kas operasi yang melesat 647% menjadi Rp1,94 triliun.
Dari sisi operasional, produksi bijih timah meningkat 96% menjadi 6.312 ton Sn, sementara produksi logam timah naik 82% menjadi 5.630 metrik ton. Volume penjualan juga tumbuh 113% menjadi 6.009 metrik ton. Kinerja tersebut semakin terdorong oleh kenaikan harga jual rata-rata (ASP) sebesar 51% menjadi US$49.221 per metrik ton.
Selain memperbaiki kinerja keuangan, PT Timah terus memperkuat strategi hilirisasi melalui pengembangan produk turunan timah seperti tin solder dan tin chemical. Perseroan juga melanjutkan pengembangan mineral ikutan monasit yang mengandung unsur logam tanah jarang atau rare earth elements (REE) yang dinilai memiliki prospek besar untuk mendukung industri teknologi masa depan.
Di saat yang sama, PT Freeport Indonesia (PTFI) tetap mencatatkan kinerja solid meskipun produksi tembaga dan emas masih terdampak proses pemulihan pasca-insiden mud rush tahun lalu. Perseroan membukukan operating income sebesar US$842 juta, meningkat dibandingkan US$777 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Salah satu indikator yang menunjukkan kuatnya efisiensi operasional Freeport adalah Unit Net Cash Credit Indonesia yang tercatat minus US$3,53 per pound tembaga. Capaian tersebut menunjukkan pendapatan dari penjualan emas sebagai produk sampingan mampu mengompensasi biaya produksi tembaga.
Selain itu, Freeport memperoleh kepastian jangka panjang melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) terkait perpanjangan IUPK pasca-2041. Di sisi hilirisasi, fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) di Gresik ditargetkan mencapai operasi normal pada semester II 2026 sehingga pemurnian emas dan perak dapat dilakukan secara mandiri di dalam negeri.
PT ANTAM Tbk (ANTM) juga menunjukkan perkembangan positif. Penjualan bauksit meningkat 9% menjadi 593.476 wet metric ton (wmt), sementara penjualan alumina naik 11% menjadi 49.072 ton. Produksi Chemical Grade Alumina (CGA) turut meningkat 13% menjadi 49.566 ton.
Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Rp10.000, Jadi Rp2.733.000 per Gram
Kemajuan terbesar ANTAM terlihat dari proyek hilirisasi alumina. Pada Februari 2026, fase pertama Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah resmi memasuki tahap operasi komersial dengan kapasitas produksi 1 juta ton per tahun. ANTAM juga memperkuat ketahanan pasokan bahan baku logam mulia melalui kerja sama pembelian emas sebanyak 6 ton per tahun dengan Merdeka Group.
Di sektor kendaraan listrik, proyek ekosistem baterai di Halmahera Timur yang dikembangkan bersama Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Huayou telah memasuki tahap konstruksi engineering, procurement, and construction (EPC) setelah penandatanganan Framework Agreement pada awal tahun ini.
Sementara itu, PT Vale Indonesia Tbk (PTVI) membuktikan kemampuannya menjaga efisiensi di tengah tekanan pasar nikel global. Perseroan berhasil memangkas biaya produksi all-in nikel hingga 48% secara tahunan menjadi US$8.184 per ton.
Harga realisasi nikel juga meningkat 6% menjadi US$17.015 per ton, sementara volume penjualan secara konsolidasi grup tumbuh 15%. Vale turut memperkuat perannya dalam pengembangan rantai pasok baterai nasional melalui kolaborasi bersama ANTAM, IBC, dan Huayou. Selain itu, perusahaan mulai mengembangkan inovasi rendah emisi melalui penggunaan kapal Guaibamax berbahan bakar etanol untuk mendukung operasional yang lebih berkelanjutan.
Adapun PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatatkan laba bersih sebesar Rp806,11 miliar pada kuartal I 2026 atau meningkat 103% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp396,77 miliar.
Baca Juga: PTBA Siapkan Kajian Komprehensif Dukung Implementasi Skema Ekspor Baru DSI
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh keberhasilan perusahaan menekan beban pokok pendapatan sebesar 6%, dari Rp8,91 triliun menjadi Rp8,38 triliun. Efisiensi tersebut menjaga profitabilitas perusahaan meskipun pendapatan relatif stabil di kisaran Rp9,93 triliun.
PTBA juga membukukan arus kas operasi sebesar Rp2,06 triliun dengan saldo kas akhir mencapai Rp4,19 triliun. Perseroan bahkan berhasil melunasi pinjaman bank jangka pendek senilai Rp2,95 triliun sehingga memperkuat struktur keuangannya.
Dari sisi pengembangan bisnis, PTBA terus memperkuat infrastruktur logistik melalui pengembangan Terminal Kramasan yang didukung kontrak jangka panjang selama 25 tahun dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero). Perseroan juga terus mengembangkan portofolio bisnis energi sebagai bagian dari strategi diversifikasi usaha.
Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch, Ferdy Hashiman, menilai capaian kuartal pertama menunjukkan anggota MIND ID berada pada jalur yang positif, meskipun sejumlah proyek dan operasi tambang masih memiliki ruang untuk bertumbuh.
"Kuartal I ini lumayan bagus. Hanya mungkin belum terlalu maksimal karena Freeport belum maksimal produksinya. Kontribusi dividen dari Freeport lumayan besar. Lalu dari Antam, labanya besar. Saya juga mengapresiasi PT Timah. Ini menjadi sejarah karena baru kuartal I saja sudah mencetak laba lebih dari Rp1 triliun. Ini sangat baik," ujar Ferdy kepada Warta Ekonomi, Selasa (9/6/2026).
Baca Juga: Rencana Relaksasi Produksi Batu Bara Jadi Angin Segar Pengusaha Tambang
Menurut dia, sejumlah perusahaan tambang pelat merah mulai menunjukkan dampak positif dari perbaikan operasional dan tata kelola yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir.
"Begitu juga PTBA. Sebenarnya kinerjanya juga terbantu oleh harga komoditas, lalu perbaikan-perbaikan dalam konteks RKAB sudah mulai terlihat. Khusus untuk kuartal I, saya harapkan pada kuartal II dan kuartal III hasilnya jauh lebih bagus. Vale juga sudah ada peningkatan," katanya.
Ferdy menambahkan, percepatan proyek-proyek strategis akan menjadi faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan perusahaan-perusahaan anggota MIND ID.
"Lalu PT Antam di Halmahera Timur juga harus berjalan lebih baik. Selain itu ada proyek alumina di Mempawah. Itu harus segera diselesaikan. Kalau realisasi proyek-proyek tersebut berjalan cepat, ke depan kinerja mereka akan semakin baik," ujarnya.
Ia juga menilai sinergi yang dibangun MIND ID sebagai holding industri pertambangan telah berjalan sesuai perannya dalam memperkuat ekosistem bisnis anggota.
"Sebenarnya dari awal sinerginya sudah bagus. MIND ID sudah berperan sebagai holding dan leader. Tugasnya mengontrol dan memastikan ekosistem berjalan dengan baik," kata Ferdy.
Secara keseluruhan, capaian kuartal pertama menunjukkan fokus anggota MIND ID tidak hanya pada peningkatan laba dan produksi, tetapi juga memperkuat fondasi bisnis jangka panjang melalui hilirisasi, efisiensi biaya, penguatan rantai pasok, dan pembangunan infrastruktur pendukung.
Dengan sejumlah proyek strategis yang terus berjalan dan kondisi keuangan yang relatif kuat, prospek kinerja anggota MIND ID hingga akhir 2026 dinilai tetap terjaga.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: