Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

MIND ID Berhasil Pangkas Emisi Scope 1 21,95% di 2025, Porsi EBT Naik Jadi 42%

MIND ID Berhasil Pangkas Emisi Scope 1 21,95% di 2025, Porsi EBT Naik Jadi 42% Kredit Foto: MIND ID
Warta Ekonomi, Jakarta -

MIND ID terus memperkuat langkah dekarbonisasi di tengah pengembangan hilirisasi mineral nasional sepanjang 2025. Holding Industri Pertambangan Indonesia itu berhasil menekan emisi gas rumah kaca (GRK) Scope 1 sekaligus meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT) dalam operasionalnya.

Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025 yang dirilis perusahaan, emisi Scope 1 turun 21,95% menjadi 2.435.137 ton CO₂e pada 2025, dari 3.119.970 ton CO₂e pada tahun sebelumnya. Penurunan tersebut mencerminkan berkurangnya emisi yang berasal langsung dari aktivitas operasional perusahaan.

Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno, menilai langkah pengurangan emisi yang dilakukan MIND ID layak diapresiasi karena dijalankan melalui pendekatan yang mencakup mitigasi, adaptasi, dan efisiensi.

"Hari ini, apa yang dilakukan oleh MIND ID menurut saya perlu diapresiasi dalam tiga konteks, yaitu mitigasi, adaptasi, dan efisiensi. Mereka meningkatkan bauran energi terbarukan sebagai bagian dari mitigasi. Selain itu, mereka juga mendorong efisiensi," kata Eddy kepada Warta Ekonomi Minggu (28/6/2026).  

Selain menurunkan emisi Scope 1, MIND ID juga meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT) dalam konsumsi energi internal menjadi 42% pada 2025, naik dari 39% pada tahun sebelumnya. 

Peningkatan tersebut didukung pemanfaatan energi bersih di sejumlah unit operasi, termasuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Eddy menilai peningkatan bauran energi terbarukan menjadi langkah penting, terutama bagi industri pengolahan dan pemurnian mineral yang memiliki tingkat emisi tinggi.

"Saya kira sangat positif. Pemanfaatan EBT sangat penting, terutama di sektor-sektor yang memiliki tingkat emisi karbon tinggi, seperti smelter. Smelter termasuk kategori hard-to-abate industries, yaitu industri yang memang sulit menurunkan emisi karbonnya," katanya.

Penguatan dekarbonisasi juga tercermin dari meningkatnya efisiensi penggunaan energi. Sepanjang 2025, intensitas emisi turun dari 0,024 ton CO₂e menjadi 0,022 ton CO₂e per Rp1 juta pendapatan. 

Total konsumsi energi berkurang 7,21% menjadi 42.688.876 gigajoule (GJ), sementara intensitas energi membaik dari 0,317 GJ menjadi 0,268 GJ per Rp1 juta pendapatan.

Menurut Eddy, efisiensi energi menjadi salah satu kunci dalam proses dekarbonisasi karena mampu menekan konsumsi energi sekaligus mengurangi emisi dari kegiatan operasional.

"Bagi saya, efisiensi sangat penting karena energi yang paling efisien adalah energi yang tidak kita gunakan," ujarnya.

Di tingkat operasional, MIND ID menjalankan berbagai inisiatif efisiensi energi. 

Salah satunya melalui Green Feeding Strategy di ANTAM Unit Bisnis Pertambangan Bauksit Kalimantan Barat yang mengoptimalkan pola pengisian alat berat untuk meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar sekaligus menekan emisi operasional.

Head of Industrial and Transport Decarbonization INDEF Green Transition Institute (GTI), Andry Satrio Nugroho, menilai strategi dekarbonisasi yang diterapkan masing-masing anggota holding yang disesuaikan dengan karakteristik yang dimiliki menjadi langkah efektif mendukung penurunan emisi operasional.

"Strategi yang disesuaikan dengan karakter bisnis tiap anggota ini cocok dengan profil beban dan akses sumber daya masing-masing. Pendekatan ini efektif sebetulnya untuk emisi operasional keseluruhan bisnis secara langsung," kat Andri kepada Warta Ekonomi.

Ia menegaskan porsi energi terbarukan MIND ID yang berhasil ditingkat di level 42% merupakan capaian yang relatif tinggi untuk kelompok industri berat.

"Porsi terbarukan 42 persen pada 2025 termasuk tinggi untuk grup industri yang cukup berat, terutama karena kontribusi hydro skala besar," tutup Andry.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra