Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Yield Obligasi Tembus 7%, Pelaku Asuransi Mulai Berburu Aset

        Yield Obligasi Tembus 7%, Pelaku Asuransi Mulai Berburu Aset Kredit Foto: Azka Elfriza
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketidakpastian ekonomi global dan domestik dinilai menjadi tantangan serius bagi industri asuransi dalam jangka pendek. Kondisi tersebut berpotensi menekan kinerja perusahaan serta memengaruhi struktur neraca keuangan, sehingga pelaku industri dituntut memperkuat strategi pengelolaan risiko dan investasi guna menjaga stabilitas bisnis.

        Departemen Head Macroeconomics Research and Publication BNI, Immanuel Reinaldo, mengatakan dampak gejolak ekonomi perlu dilihat berdasarkan rentang waktu. Menurutnya, tekanan ekonomi saat ini memang berpotensi memberikan dampak negatif terhadap industri asuransi dalam jangka pendek.

        "Kalau misalkan dalam jangka pendek, ini pasti tentu akan menjadi ancaman, akan challenging. Tentu akan, istilahnya, mengubah balance sheet dari perusahaan," ujar Immanuel dalam iLearn Thematic Webinar bertajuk Risk Intelligence and Sovereignty, Rabu (10/6/2026).

        Ia menjelaskan, kondisi pasar yang tidak menentu dapat memengaruhi kinerja investasi perusahaan asuransi. Sebagai investor institusional, industri asuransi memiliki eksposur pada berbagai instrumen keuangan yang rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi dan pasar.

        Meski demikian, Immanuel menilai tantangan jangka pendek tersebut juga membuka peluang bagi perusahaan asuransi dalam jangka menengah hingga panjang. Salah satunya berasal dari meningkatnya imbal hasil (yield) obligasi yang dinilai semakin menarik bagi investor institusional.

        "Dalam ilmu investasi, setiap krisis, resesi, atau ekonomi yang sedang melemah merupakan kesempatan untuk membeli aset yang bisa memberikan return lebih tinggi. Kalau kami berdiskusi dengan dana pensiun dan asuransi, mereka sangat menantikan yield obligasi berada di atas 7%, karena rata-rata dana pensiun baru mau mengambil obligasi jika yield-nya sudah di atas 7%, yang saat ini memang sedang terjadi," katanya.

        Menurut Immanuel, obligasi masih menjadi salah satu instrumen investasi yang relatif aman untuk menjaga keseimbangan portofolio saat pasar bergejolak. Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan perusahaan asuransi untuk memperkuat hasil investasi sekaligus menjaga ketahanan keuangan.

        Selain itu, tekanan ekonomi juga dinilai berpotensi meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan risiko melalui produk asuransi.

        Baca Juga: Industri Asuransi Perlu Waspadai Risiko Klaim Besar Akibat Perlambatan Ekonomi

        Baca Juga: Mirip SLIK Perbankan, OJK Dorong Pusat Data Asuransi Kesehatan Terintegrasi

        "Ketika ekonomi sedang melemah seperti saat ini, sebenarnya kebutuhan terhadap produk asuransi menjadi semakin penting. Misalnya untuk mengantisipasi risiko gagal bayar atau ketidakpastian ekonomi lainnya yang dapat dilindungi melalui produk asuransi," ujarnya.

        Karena itu, Immanuel menekankan pentingnya perusahaan asuransi melakukan diversifikasi portofolio investasi secara optimal. Langkah tersebut dinilai dapat membantu industri menghadapi tekanan jangka pendek sekaligus menangkap peluang pertumbuhan di tengah dinamika ekonomi yang masih berlangsung.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: