Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Iran Respons Keras Serangan Terbaru Amerika: Kami Akan Ubah Timur Tengah Jadi Neraka

        Iran Respons Keras Serangan Terbaru Amerika: Kami Akan Ubah Timur Tengah Jadi Neraka Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat ke level berbahaya. Setelah Washington melancarkan serangan udara baru ke sejumlah target strategis Iran, Teheran kini mengeluarkan ancaman keras yang berpotensi menyeret seluruh kawasan Timur Tengah ke dalam konflik yang lebih luas.

        Ancaman tersebut disampaikan Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Majid Mousavi. Ia menegaskan Iran tidak akan tinggal diam jika keamanan Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak terpenting dunia, terus menjadi sasaran tekanan militer Amerika Serikat.

        Baca Juga: 'Pengganggu Timur Tengah Sudah Mati,' Amerika Klaim Iran Kini Cuma Bisa Omong Besar Tanpa Aksi

        "Kami akan mengubah kawasan ini menjadi neraka bagi kalian dari seluruh wilayah Iran jika kalian membuat Selat Hormuz yang suci menjadi tidak aman," kata Mousavi, dikutip Kamis (11/6).

        Pernyataan itu muncul setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada Rabu waktu setempat.

        Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan dilakukan atas perintah Presiden Donald Trump sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai agresi Iran yang berkelanjutan.

        Ledakan dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah penting Iran, termasuk Sirik, Pulau Qeshm, Minab, dan Isfahan.

        Dalam operasi terbaru tersebut, militer Amerika mengaku menggunakan aset dari Korps Marinir, Angkatan Udara, dan Angkatan Laut untuk menghantam berbagai fasilitas militer Iran.

        CENTCOM menyebut sasaran serangan meliputi sistem pertahanan udara, fasilitas pengawasan militer, serta jaringan komunikasi yang dinilai mengancam pasukan Amerika dan kapal-kapal komersial internasional yang melintasi kawasan.

        "Pasukan Amerika tetap waspada, mematikan dan siap menghadapi segala ancaman," tulis CENTCOM dalam pernyataannya.

        Namun, ancaman Iran menunjukkan bahwa Teheran kini mulai menggeser fokus responsnya dari sekadar membalas serangan langsung menjadi memperingatkan kemungkinan eskalasi regional yang jauh lebih luas.

        Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam geopolitik dunia. Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu menjadi rute utama pengiriman minyak global.

        Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi dunia sekaligus mengganggu pasokan minyak internasional.

        Peringatan Mousavi juga menjadi sinyal bahwa Iran menganggap tekanan militer Amerika telah memasuki fase yang mengancam kepentingan strategis nasionalnya.

        Meski pejabat Amerika sebelumnya menepis klaim bahwa Iran telah menutup Selat Hormuz dan menyebut lalu lintas kapal masih berjalan normal, ancaman terbaru dari IRGC memperlihatkan bahwa kawasan Timur Tengah masih berada di ambang eskalasi besar.

        Baca Juga: 'Salah dari 90-an,' Prabowo Tegaskan Ingin Koreksi Arah Gerak Bangsa Indonesia

        Dengan Amerika terus meningkatkan serangan dan Iran mulai mengancam dampak regional yang lebih luas, kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas ke berbagai negara di Timur Tengah kembali menguat dalam beberapa hari terakhir.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: