Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Anak Buah Bahlil Bongkar Alasan di Balik Harga Pertamax Naik

        Anak Buah Bahlil Bongkar Alasan di Balik Harga Pertamax Naik Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax mengikuti pergerakan harga minyak global yang saat ini masih berfluktuasi akibat kondisi geopolitik internasional.

        Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, mengatakan Pertamax sebagai BBM nonsubsidi menggunakan mekanisme harga pasar, sehingga penyesuaian dapat terjadi ketika terjadi perubahan pada harga minyak dunia.

        "Kalau bicara BBM nonsubsidi seperti Pertamax, harganya ini memang (ikut) mekanismenya dilepaskan ke harga pasar. Jadi ketika harga minyak dunia naik, mau tidak mau ada penyesuaian karena parameter harga ini tidak hanya bicara crude atau produk BBM saja, tetapi juga ada biaya distribusi, biaya penyimpanan, pajak, dan lain-lain," ujar Dwi di KESDM, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

        Ia menjelaskan, kondisi geopolitik global turut memberikan tekanan terhadap volatilitas harga minyak yang berdampak pada penyesuaian harga BBM di dalam negeri, khususnya untuk produk nonsubsidi.

        Dwi menegaskan, pemerintah tetap memprioritaskan perlindungan bagi masyarakat rentan dengan menjaga harga BBM subsidi agar tidak mengalami kenaikan.

        "Kalau boleh meminjam istilahnya, Presiden mengeluarkan kebijakan yang pro wong cilik. BBM subsidi dijaga untuk tidak naik. Pertalite tidak akan naik, Biosolar atau solar subsidi juga tidak akan naik karena ini yang akan berpengaruh sangat besar," katanya.

        Menurutnya, dampak lanjutan dari penyesuaian harga Pertamax tetap menjadi perhatian pemerintah. Namun, efek tersebut dinilai dapat diminimalkan karena sektor transportasi umum dan logistik masih menggunakan BBM bersubsidi.

        "Tapi paling tidak efek domino ini bisa diminimalisasi. Mengapa? Karena, contohnya, transportasi umum, angkutan umum, dan angkutan logistik itu masih menggunakan BBM yang disubsidi oleh pemerintah," ujarnya.

        Terkait potensi pergeseran konsumsi dari Pertamax ke BBM subsidi, Dwi mengatakan hal tersebut masih dalam pantauan pemerintah bersama Pertamina Patra Niaga.

        Baca Juga: Barcode BBM Subsidi UMKM Diblokir Sepihak, Legislator PDIP Minta Transparansi Pemerintah.

        Baca Juga: Pertamax Tembus Rp16 Ribu, Pertalite Jadi Korban Efek Domino!

        "Dalam dua hari ini apakah sudah ada pergeseran? Alhamdulillah tidak terlalu besar shifting-nya. Mungkin dari Pertamax Turbo ke Pertamax saat ini," katanya.

        Ia menambahkan pemerintah telah meminta peningkatan pengawasan distribusi BBM subsidi untuk mengantisipasi potensi penyalahgunaan dan menjaga ketepatan sasaran.

        "Yang paling penting adalah kesadaran dari masyarakat. Mana yang haknya, mana yang bukan haknya. Itu sih yang lebih penting agar kita bisa sama-sama survive," ujarnya.

        Dwi juga menyebut harga Pertamax saat ini masih berada di bawah harga keekonomian jika dibandingkan dengan sejumlah negara di kawasan.

        "Kalau kita melihat negara tetangga itu di angka Rp20.000 sampai Rp21.000. Jadi penyesuaian yang dilakukan sekarang ini sebenarnya masih jauh di bawah harga keekonomian," katanya.

        Pemerintah, lanjut Dwi, akan terus menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi masyarakat dan keberlanjutan fiskal negara dalam menghadapi dinamika harga energi global.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: