Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        PDIP soal Viral Eks Ketua BEM UGM Diintai Lewat GPS, 'Ini Bentuk Teror Psikologis yang Nyata'

        PDIP soal Viral Eks Ketua BEM UGM Diintai Lewat GPS, 'Ini Bentuk Teror Psikologis yang Nyata' Kredit Foto: Twitter/Mohamad Guntur Romli
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Juru Bicara PDI Perjuangan (PDIP), Guntur Romli, mengecam dugaan pemasangan alat pelacak (GPS) secara ilegal pada mobil mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto.

        Menurutnya, tindakan tersebut merupakan bentuk intimidasi serius yang berpotensi mengancam kebebasan berekspresi dan hak atas rasa aman warga negara.

        Guntur menilai dugaan pengawasan tanpa izin itu tidak dapat dianggap sebagai tindakan biasa karena menyangkut privasi dan keamanan individu.

        "Tindakan tersebut adalah bentuk pengawasan ilegal yang merupakan teror psikologis yang nyata dan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Aksi ini mencoreng demokrasi di Indonesia,” ujar Guntur.

        Ia menegaskan bahwa hak atas perlindungan diri dan rasa aman telah dijamin dalam Pasal 28G ayat (1) UUD 1945. Karena itu, setiap bentuk intimidasi terhadap warga negara harus ditindaklanjuti secara serius oleh aparat penegak hukum.

        Guntur juga menyinggung sejumlah kasus intimidasi dan teror terhadap aktivis, jurnalis, maupun warga sipil yang dinilai belum sepenuhnya terungkap. Menurutnya, berbagai peristiwa tersebut menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat terkait perlindungan kebebasan sipil.

        Ia menilai negara perlu menunjukkan komitmen yang lebih kuat dalam menuntaskan berbagai kasus yang berkaitan dengan intimidasi maupun kekerasan terhadap kelompok kritis.

        "Seperti kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, kami memandang negara masih setengah hati melalui pengadilan sandiwara, karena vonis hukuman terhadap pelaku sangat ringan dan jauh dari rasa keadilan terhadap korban dan masyarakat,” kata Guntur.

        PDIP meminta aparat penegak hukum segera mengusut tuntas dugaan pemasangan alat pelacak tersebut. Guntur menegaskan penyelidikan tidak boleh berhenti pada pelaku di lapangan, tetapi juga harus mengungkap pihak yang diduga menjadi perancang atau pemberi perintah.

        "Kini teror baru sudah terjadi lagi, maka kita harus mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengusut tuntas aktor intelektual di balik pemasangan alat teror itu,” ujarnya.

        Sebelumnya, kasus dugaan pemasangan GPS pada kendaraan Tiyo Ardianto menjadi perhatian publik, eks Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto mengaku mendapat pengingatian dari rezim yang berkuasa hari ini.

        Sebelumnya, insiden terbaru yang menimpa Tiyo terjadi kemarin, Sabtu 13 Juni 2026, di mana sebuah alat pelacak (GPS tracker) ditemukan tertanam di mobil pribadinya usai dirinya memimpin aksi demonstrasi elemen masyarakat di Gejayan, Yogyakarta

        Ia mengaku menemukan perangkat GPS pada mobilnya setelah terlibat dalam agenda Gejayan Memanggil di Yogyakarta.

        Dalam video yang ia unggah, Tiyo menjelaskan kronologi temuan tersebut dan alasan mengapa ia merasa publik perlu mengetahuinya. 

        "Ini yah, teman-teman sekalian ini saya menempukan GPS, ini namanya PPX Finder, karena muncul notifikasi di ponsel saya, dipasang entah oleh siapa," kata Tiyo.

        Ia mengaku dengan segala pengintaian dan ancaman kekerasan tak membuat langkahnya surut dan menciut, justru ia akan tambah lebih berani.

        "Ini menjijikan rezim hari ini yang sedang berkuasa, kita yang mengritik untuk perbaikan bangsa justru mendapat ancaman, mari rekan-rekan semakin diteror semakin gacor, semakin ditekan semakin melawan, semakin cepat hari-hari revolusi, terima kasih Pak Prabowo," tambahnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: