Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Dibuka Melemah Jelang Pengumuman RDG BI, Mayoritas Saham Bergerak di Zona Merah

        IHSG Dibuka Melemah Jelang Pengumuman RDG BI, Mayoritas Saham Bergerak di Zona Merah Kredit Foto: Uswah Hasanah
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Kamis (18/6/2026) pagi di zona merah. Berdasarkan data RTI pada pukul 09.02 WIB, IHSG berada di level 6.164,835, turun 55,904 poin atau 0,90% dibandingkan penutupan sebelumnya.

        Pada awal sesi perdagangan, IHSG dibuka di level 6.191,891 dan sempat menyentuh level tertinggi 6.197,171. Namun, tekanan jual mendorong indeks turun hingga menyentuh level terendah 6.144,548.

        Aktivitas perdagangan tercatat mencapai 977,945 juta saham dengan nilai transaksi sekitar Rp650 miliar dan frekuensi perdagangan sebanyak 92.584 kali.

        Dari sisi pergerakan saham, sebanyak 196 saham menguat, 240 saham melemah, dan 206 saham bergerak stagnan, mencerminkan dominasi tekanan jual pada perdagangan pagi ini.

        Sementara itu, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat berada di kisaran Rp10.742,072 triliun.

        Senior Technical AnalystMirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, mengatakan pergerakan IHSG diperkirakan menguat terbatas setelah membentuk pola bearish pin bar. Sementara itu, indikator Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal positif, namun indikator volume mulai menurun.

        Adapun fokus utama para pelaku pasar global tertuju pada hasil pertemuan FOMC The Fed terkait Keputusan Fed Rate serta FOMC Economic Projections. Di bawah Ketua The Fed yang baru yakni Kevin Warsh, FOMC memutuskan untuk mempertahankan Fed Rate di level 3,75%.

        Berdasarkan proyeksi Fed Funds Rate per Juni 2026 ini, adapun median mengalami kenaikan menjadi 3,8% dari 3,4% per Maret 2026 sebelumnya untuk 2026 ini, yang mengisyaratkan adanya peluang kenaikan Fed Rate sebesar 25 bps untuk tahun ini, yakni di Desember 2026, sehingga arah kebijakan The Fed ini masih dipandang hawkish oleh kalangan pelaku pasar.

        Beralih ke Timur Tengah, harapan akan kesepakatan perdamaian mengalami sedikit kemunduran setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa AS dapat melanjutkan serangan terhadap Iran apabila Iran tidak mengindahkan kesepakatan tersebut. Adapun Washington dan Teheran akan membuka diplomasi baru di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026 dalam rangka menandatangani kesepakan perdamaian dalam bentuk MOU ini.

        Baca Juga: IHSG Gagal Pertahankan Penguatan, Ditarik Turun Saham-Saham Jumbo

        Baca Juga: IHSG Dibuka Menguat 1,50%, Pasar Masih Tunggu Hasil Kesepakatan Damai AS-Iran

        Sementara itu, para pelaku pasar tengah mengantisipasi pengumuman dari MSCI dimana probabilitas downgrade dari Emerging Market ke Frontier Market diprediksikan masih relatif kecil. Ditambah lagi bila pembekuan sementara dicabut, maka bobot berbagai saham big caps berpotensi naik dan memicu inflow dana global.

        Di sisi lain, para pelaku pasar juga mengantisipasi hasil RDG BI dimana guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, adapun penetapan BI Rate diperkirakan naik 25 bps pada level 5,75% berdasarkan konsensus. Apalagi saat ini rupiah tertekan 0,21% pada level 17.762 per dolar AS.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: