Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        BI Rate Diprediksi Sentuh 6% di Akhir Tahun 2026, Ini Penyebabnya

        BI Rate Diprediksi Sentuh 6% di Akhir Tahun 2026, Ini Penyebabnya Kredit Foto: Azka Elfriza
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Bank DBS Indonesia memproyeksikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) akan kembali naik hingga mencapai 6,00% pada akhir 2026 dan bertahan hingga 2027. Proyeksi tersebut didorong oleh tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan inflasi yang masih menjadi perhatian dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik.

        Head of Investment & Insurance Product DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, mengatakan Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga secara bertahap dalam beberapa kuartal mendatang.

        Berdasarkan proyeksi DBS, BI Rate berpeluang naik menjadi 5,75% pada kuartal II-2026 sebelum kembali meningkat ke level 6,00% pada kuartal III-2026 dan bertahan hingga 2027.

        “Ekspektasinya mungkin second quarter di 5,75% dan mungkin akan ada sekali lagi sebelum kita menuju third quarter dan seterusnya,” kata Djoko dalam media gathering di Jakarta, Kamis (18/6/2026).

        Menurutnya, meski kenaikan suku bunga berpotensi menambah beban dunia usaha dan masyarakat, langkah tersebut dinilai menjadi instrumen yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan tekanan inflasi.

        Kenaikan BI Rate juga diperkirakan berdampak pada industri perbankan. Seiring meningkatnya biaya dana (cost of fund), bank berpotensi melakukan penyesuaian suku bunga kredit yang pada akhirnya dapat meningkatkan beban cicilan pinjaman nasabah.

        Mengantisipasi kondisi tersebut, Consumer Banking Director DBS Indonesia, Melfrida Gultom, mengatakan perseroan secara rutin melakukan stress test untuk mengukur ketahanan bisnis dan profil risiko bank terhadap berbagai skenario ekonomi.

        “Jadi kita melakukan stress test, terus kemudian kita melihat lagi risk appetite. Sehingga kita align risk appetite kita dengan segmen yang kita mau tapping,” ujar Melfrida.

        Baca Juga: BI Rate Naik, OJK Pantau Dampaknya ke Perbankan dan Pasar Modal

        Baca Juga: BI Rate Naik Jadi 5,25%, OJK Minta Debitur Tak Panik Suku Bunga Kredit Melonjak

        Selain itu, DBS Indonesia juga memperkuat manajemen risiko untuk mengantisipasi potensi kenaikan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) apabila suku bunga terus meningkat.

        Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperketat proses underwriting kredit guna memastikan kualitas pembiayaan tetap terjaga di tengah potensi perlambatan kemampuan bayar debitur akibat kenaikan suku bunga.

        Proyeksi kenaikan BI Rate tersebut menjadi sinyal bahwa stabilitas makroekonomi masih menjadi prioritas utama, meski konsekuensinya dapat meningkatkan biaya pinjaman bagi sektor usaha maupun rumah tangga.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: