Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Soal Temuan GPS Tiyo Ardianto, Qodari: Kuno, Negara Sudah Gak Pakai Teknologi Itu

        Soal Temuan GPS Tiyo Ardianto, Qodari: Kuno, Negara Sudah Gak Pakai Teknologi Itu Kredit Foto: Cita Auliana
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Temuan alat pelacak atau GPS yang diklaim ditemukan oleh mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, memicu polemik di tengah panasnya kritik terhadap pemerintah.

        Di saat sebagian pihak mengaitkan temuan tersebut dengan dugaan pengawasan terhadap aktivis, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari justru meminta publik tidak terburu-buru menarik kesimpulan.

        Menurut Qodari, tuduhan yang berkembang sejauh ini masih bersifat asumsi karena belum ada bukti yang menunjukkan siapa pihak yang memasang perangkat tersebut. Ia menegaskan bahwa dugaan semacam itu harus dibuktikan melalui proses investigasi yang sah, bukan sekadar spekulasi yang beredar di ruang publik.

        Qodari bahkan menilai metode pemasangan GPS fisik pada kendaraan sudah tergolong kuno jika dibandingkan dengan perkembangan teknologi pelacakan saat ini.

        "Informasi yang saya dapat ya sekarang alat-alat tracking itu sudah sangat canggih sehingga tidak perlu lagi pasang alat-alat tracking yang fisik, yang kuno. Yang ditempel-tempel di mobil itu film jadul," kata Qodari.

        Baca Juga: 'Jelaskan dengan Data', Ganjar Sebut Tuduhan Tiyo Ardianto Terkait dengan PDIP Hanya untuk Mengaburkan Masalah

        Meski mengaku tidak mendalami secara teknis teknologi pelacakan modern, Qodari menilai penggunaan perangkat fisik justru menimbulkan pertanyaan baru. Menurutnya, jika benar ada alat yang ditempelkan pada kendaraan, belum tentu pelakunya berasal dari pihak yang selama ini dituding.

        "Yang masang ini mungkin amatiran. Karena kalau yang canggih, kalau negara sudah gak pakai teknologi itu lagi. Nah yang ketiga bukan mustahil itu juga adalah upaya adu domba sebetulnya," ungkap dia.

        Ia menegaskan bahwa hingga kini tidak ada kepastian mengenai identitas pemasang alat tersebut. Karena itu, ia meminta semua pihak mengedepankan asas praduga tak bersalah dan menyerahkan persoalan tersebut kepada aparat penegak hukum agar dapat diselidiki secara objektif.

        "Tidak boleh tuding sana sini kan. Ya diinvestigasi bila perlu laporkan kepada penegak hukum untuk kemudian diselidiki itu sesungguhnya siapa yang memasang," imbuhnya.

        Qodari menekankan bahwa kesimpulan mengenai pelaku hanya bisa diambil setelah proses penyelidikan menemukan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Tanpa bukti yang jelas, menurutnya, tuduhan yang diarahkan kepada pihak tertentu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman baru di tengah masyarakat.

        Sebelumnya, Tiyo Ardianto mengaku menemukan alat pelacak setelah mendapatkan notifikasi mencurigakan di telepon genggamnya. Temuan itu kemudian ia ungkap melalui sebuah video yang diunggah ke media sosial.

        Baca Juga: Mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Dipolisikan, Pelapor Ternyata Ketua Umum Ternak Mulyono

        "Ini yah, teman-teman sekalian ini saya menempukan GPS, ini namanya PPX Finder, karena muncul notifikasi di ponsel saya, dipasang entah oleh siapa," kata Tiyo.

        Dalam video yang sama, Tiyo mengaitkan temuan tersebut dengan tekanan yang menurutnya dialami oleh pihak-pihak yang menyampaikan kritik kepada pemerintah. "Ini menjijikan rezim hari ini yang sedang berkuasa, kita yang mengritik untuk perbaikan bangsa justru mendapat ancaman, mari rekan-rekan semakin diteror semakin gacor, semakin ditekan semakin melawan, semakin cepat hari-hari revolusi, terima kasih Pak Prabowo," ujarnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: