'Bagaimanapun Kami Menang,' Amerika Hanya Akan Penuhi Janjinya Kalau Ada Perubahan Sikap di Iran
Kredit Foto: Gemini/Wahyu Pratama
Amerika Serikat (AS) menegaskan bahwa Iran tidak akan memperoleh keuntungan apa pun dari nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang baru ditandatangani kedua negara apabila Teheran tidak mengubah perilakunya.
Wakil Presiden AS, JD Vance mengatakan sejumlah pihak meragukan bahwa Iran akan mengubah sikapnya. Namun, menurut dia, kesepakatan ini layak dicoba karena Washington tidak akan kehilangan apa pun apabila Teheran tetap tidak berubah.
Baca Juga: 'Tak Perlu Runtuhkan Setiap Gedung,' Presiden Amerika Nilai Taktik Israel di Lebanon Sangatlah Buruk
"Saya melihat para skeptis mengatakan Iran tidak akan pernah mengubah perilakunya. Mungkin itu benar, dan jika demikian mereka tidak akan mendapatkan manfaat apa pun dari kesepakatan ini. Tetapi bukankah layak untuk mencobanya?" kata Vance, dikutip Jumat (19/6).
Ia menilai Iran saat ini berada dalam posisi yang lebih lemah setelah perang dan memahami besarnya pengaruh yang dimiliki Amerika Serikat terhadap mereka.
Menurut Vance, memorandum tersebut pada dasarnya merupakan sebuah ujian bagi Teheran. Jika Iran bersedia mengubah perilakunya, negara itu dapat memperoleh berbagai manfaat ekonomi dan politik dari kesepakatan. Sebaliknya, apabila tidak ada perubahan sikap, Amerika Serikat tidak akan dirugikan.
"Jika mereka mengubah perilakunya, hal-hal besar akan terjadi. Jika mereka tidak berubah, tidak ada kerugian bagi kami. Bagaimanapun juga, kami menang," ujarnya.
Vance juga membantah kritik yang menyebut Iran akan menerima berbagai konsesi dan keuntungan di awal perjanjian. Ia menilai anggapan tersebut merupakan bentuk misrepresentasi terhadap isi memorandum.
"Mereka tidak mendapatkan apa pun kecuali mereka mengubah perilakunya. Jika mereka berubah, itu sesuatu yang patut dirayakan. Itu akan mengubah Timur Tengah untuk satu generasi," katanya.
Menurut dia, para pengkritik keliru ketika menilai Teheran akan memperoleh manfaat sebelum kesepakatan final tercapai atau sebelum menunjukkan perubahan sikap.
"Jika mereka tidak mengubah perilakunya, mereka tidak akan mendapatkan manfaat dari kesepakatan tersebut," tegas Vance.
Ia juga menuding narasi bahwa Iran menerima keuntungan terlalu cepat berasal dari pihak-pihak yang menginginkan konflik di Timur Tengah terus berlanjut tanpa batas.
"Pemikiran bahwa Iran mendapatkan semua manfaat sebelum kesepakatan benar-benar diselesaikan pada dasarnya adalah narasi dari orang-orang yang ingin konflik ini berlanjut tanpa akhir," ujarnya.
Vance menegaskan konflik berkepanjangan tidak akan menguntungkan rakyat Amerika Serikat maupun kawasan Timur Tengah.
Dalam kesempatan itu, Vance juga membandingkan memorandum baru dengan kesepakatan nuklir Iran 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada era Presiden Barack Obama.
Menurut dia, negara-negara Teluk pada saat itu menilai JCPOA justru memperkuat pengaruh Iran di kawasan. Sebaliknya, negara-negara Arab Teluk kini disebut melihat kesepakatan terbaru sebagai sesuatu yang berpotensi membawa transformasi besar bagi Timur Tengah.
"Apa yang dikatakan negara-negara Arab Teluk tentang kesepakatan ini? Mereka mengatakan ini adalah sesuatu yang sangat transformatif bagi kawasan," kata Vance.
Ia menambahkan bahwa Iran kini berada di bawah tekanan ekonomi, program nuklirnya telah mengalami kerusakan, dan posisinya jauh lebih lemah dibandingkan sebelumnya.
Baca Juga: 'Pulang Usai Laga Sudah Aturan,' Amerika Ogah Beri Keringanan ke Timnas Iran di Piala Dunia 2026
Karena itu, menurut pemerintahan Trump, seluruh manfaat yang dijanjikan dalam kesepakatan hanya akan diberikan apabila Iran benar-benar mengubah perilakunya dan memenuhi komitmen yang telah disepakati bersama Washington.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: