- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Indonesia Dorong Kolaborasi Global untuk Percepat Pencapaian SDGs di Tengah Krisis Iklim
Kredit Foto: Dwi Aditya Putra
Indonesia menegaskan pentingnya kolaborasi global dalam menghadapi tantangan pembangunan berkelanjutan yang kian kompleks, mulai dari perubahan iklim, ketahanan pangan, hingga lambatnya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan lembaga internasional dinilai menjadi faktor penting untuk mempercepat penyelesaian berbagai persoalan tersebut.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A.A., Teguh Sambod, mengatakan bahwa perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan berbagai krisis global telah memberikan tekanan yang signifikan terhadap pembangunan ekonomi maupun sosial.
Ia menilai dampak perubahan iklim kini telah meluas dan tidak lagi hanya berkaitan dengan isu lingkungan, tetapi juga memengaruhi ketahanan pangan, ketersediaan air, kesehatan masyarakat, serta stabilitas ekonomi.
"Krisis iklim bukan lagi isu lingkungan yang berdiri sendiri. Dampaknya telah memengaruhi pembangunan ekonomi, sosial, dan kesejahteraan masyarakat secara luas," ujar Leonardo dalam pembukaan Global Sustainable Development Congress (GSDC) 2026 yang digelar di BSD, Tangerang, Senin (22/6/2026).
Leonardo mengungkapkan bahwa berdasarkan data terbaru, sebagian besar target SDGs di tingkat global masih mengalami keterlambatan. Di kawasan Asia Pasifik, sekitar 88 persen target SDGs bahkan belum berada pada jalur yang memadai untuk dicapai pada 2030.
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut pendekatan pembangunan yang lebih terpadu dengan menyelaraskan agenda ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam satu kerangka kebijakan yang saling mendukung.
Di Indonesia sendiri, implementasi SDGs telah diintegrasikan ke dalam agenda pembangunan nasional, termasuk visi Indonesia Emas 2045 dan target pencapaian emisi nol bersih pada 2060.
Leonardo menjelaskan bahwa capaian Indonesia menunjukkan perkembangan yang positif. Berdasarkan Laporan SDGs Indonesia 2025, sebanyak 62,7 persen indikator nasional telah memenuhi target atau bergerak sesuai jalur yang diharapkan.
Meski demikian, ia menilai upaya percepatan tetap diperlukan karena tantangan pembangunan semakin beragam dan membutuhkan partisipasi dari seluruh pemangku kepentingan.
Ia juga menyoroti peran strategis perguruan tinggi dalam mendukung pencapaian SDGs melalui riset, inovasi, dan pengembangan solusi yang dapat diimplementasikan secara langsung.
"Pembangunan berkelanjutan membutuhkan kontribusi aktif seluruh pemangku kepentingan, dan perguruan tinggi berada di pusat upaya tersebut," kata Leonardo.
Saat ini Indonesia telah memiliki 75 SDGs Center yang tersebar di 26 provinsi. Kehadiran pusat-pusat tersebut diharapkan mampu memperkuat sinergi antara kampus, pemerintah daerah, masyarakat, dan sektor swasta dalam mengatasi berbagai tantangan pembangunan.
Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, menyampaikan bahwa pembangunan berkelanjutan merupakan tantangan sekaligus peluang besar bagi generasi sekarang maupun mendatang.
Menurutnya, transisi menuju ekonomi hijau memiliki potensi menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kualitas pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.
"Pendidikan adalah fondasi untuk membangun keterampilan, pengetahuan, dan inovasi yang dibutuhkan dalam ekonomi masa depan," ujar Dominic.
Baca Juga: Purbaya Akui Investor China Mengeluhkan Iklim Investasi Indonesia, Prabowo Beri Respons Ini
Baca Juga: 'Kaltim Mesti Kondusif,' Tim Ahli Rudy Mas'ud Khawatir Kegaduhan di Medsos Pengaruhi Iklim Investasi
Dominic menambahkan bahwa Inggris terus memperkuat kemitraan dengan Indonesia di bidang pendidikan, riset, perubahan iklim, dan teknologi guna melahirkan berbagai inovasi yang dapat menjawab tantangan pembangunan global.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan berkelanjutan tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja, melainkan memerlukan kolaborasi lintas sektor sebagai fondasi utama.
"Transisi menuju masa depan yang berkelanjutan hanya bisa dicapai melalui kolaborasi. Semua pihak memiliki peran penting dalam membentuk masa depan yang lebih baik," kata Dominic.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: