Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Baru Mau Damai, Ancaman Trump Bikin Perundingan Iran-AS di Swiss Nyaris Berantakan

        Baru Mau Damai, Ancaman Trump Bikin Perundingan Iran-AS di Swiss Nyaris Berantakan Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kesepakatan damai yang baru saja diteken Iran dan Amerika Serikat ternyata belum mampu meredam ketegangan di antara kedua negara, setelah ancaman terbaru Presiden AS Donald Trump nyaris menggagalkan perundingan yang sedang berlangsung di Swiss.

        Situasi itu menunjukkan bahwa hubungan Teheran dan Washington masih berada dalam fase yang rapuh, meski keduanya telah sepakat mengakhiri konflik militer yang berlangsung sejak akhir Februari lalu.

        Perundingan teknis antara Iran dan AS yang dimediasi Pakistan dan Qatar digelar di resor Burgenstock, Swiss, pada Minggu (21/6/2026).

        Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya lanjutan untuk menerjemahkan memorandum perdamaian yang telah ditandatangani kedua negara beberapa hari sebelumnya.

        Namun suasana diplomasi berubah ketika Trump mengeluarkan pernyataan keras melalui media sosial Truth Social pada hari yang sama.

        Dalam unggahannya, Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat siap kembali menyerang Iran apabila Teheran tidak memaksa kelompok sekutunya di Lebanon untuk berhenti "menimbulkan masalah".

        Ancaman tersebut langsung menjadi sorotan internasional karena muncul saat jalur komunikasi diplomatik masih berjalan.

        Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeli Baghaei, mengungkapkan bahwa delegasi Iran mengetahui pernyataan Trump saat perundingan memasuki masa jeda singkat untuk melakukan konsultasi internal.

        Menurut Baghaei, kabar mengenai ancaman tersebut diterima sekitar pukul 16.30 waktu setempat ketika para peserta sedang menghentikan sementara pembicaraan.

        Reaksi Iran pun muncul dengan cepat.

        Baghaei mengatakan delegasi Iran kemudian menyampaikan bahwa mereka tidak akan melanjutkan pertemuan empat pihak yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, Pakistan, dan Qatar.

        “Namun, para perantara terus bertukar pernyataan,” kata Baghaei kepada kantor berita negara Iran, IRNA.

        Pernyataan itu sekaligus membantah anggapan bahwa ancaman Trump tidak memengaruhi jalannya negosiasi.

        Meski demikian, Iran menegaskan proses komunikasi tidak sepenuhnya terputus karena mediator tetap menjalankan perannya untuk menjaga dialog tetap terbuka.

        Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance memberikan versi berbeda mengenai situasi yang terjadi di Swiss.

        Vance menyebut delegasi Iran sebenarnya tidak meninggalkan perundingan, berbeda dengan berbagai laporan yang menyebut Teheran sempat menolak melanjutkan pembicaraan.

        Perbedaan narasi dari kedua pihak memperlihatkan betapa sensitifnya kondisi hubungan Iran dan Amerika Serikat saat ini.

        Ketegangan tersebut menjadi sorotan karena muncul hanya beberapa hari setelah kedua negara menandatangani memorandum penghentian konflik pada 18 Juni 2026.

        Dokumen itu disepakati secara jarak jauh dan menjadi langkah penting setelah berbulan-bulan hubungan kedua negara berada di titik paling panas.

        Dalam memorandum tersebut, Amerika Serikat menyetujui pencabutan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran dalam tenggat waktu tertentu.

        Sebagai bagian dari kesepakatan yang sama, Iran juga berkomitmen memulihkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis perdagangan energi dunia.

        Kesepakatan itu sempat dipandang sebagai sinyal positif bahwa kedua negara mulai bergerak menuju fase hubungan yang lebih stabil.

        Baca Juga: Trump Pilih Hadapi Risiko Depresi Global Demi Cegah Iran Miliki Senjata Nuklir

        Namun kemunculan ancaman baru dari Trump memperlihatkan bahwa jalan menuju perdamaian masih jauh dari kata aman.

        Peristiwa di Swiss menjadi bukti bahwa setiap pernyataan politik dari kedua kubu masih berpotensi memicu gejolak baru yang dapat menghambat proses diplomasi.

        Dengan kondisi tersebut, masa depan hubungan Iran dan Amerika Serikat masih dibayangi ketidakpastian meski kerangka perdamaian telah resmi dibentuk.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: