- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
DMO Batu Bara PLN Jadi Sorotan, Harga Efektif Penambang Disebut Hanya US$35-US$38 per Ton
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengungkap harga efektif yang diterima perusahaan tambang untuk pasokan batu bara kalori menengah ke PT PLN (Persero) berada di kisaran US$35-US$38 per ton, lebih rendah dibanding harga pasar untuk batu bara dengan spesifikasi serupa.
Head of Industrial and Transport Decarbonization INDEF Green Transition Initiative (GTI), Andry Satrio Nugroho, mengatakan kondisi tersebut terjadi karena harga Domestic Market Obligation (DMO) yang ditetapkan pemerintah sebesar US$70 per ton mengacu pada batu bara berkalori 6.322 kcal/kg GAR, sementara kebutuhan pembangkit PLN banyak menggunakan batu bara kalori menengah.
"Berdasarkan perhitungan dari Perhapi, harga efektif yang dibayarkan PLN kepada perusahaan tambang hanya di kisaran US$35-US$38 per ton," kata Andry kepada Warta Ekonomi, dikitip Selasa (23/6/2026).
Menurut Andry, harga efektif tersebut berada di bawah harga batu bara kalori menengah di pasar. Berdasarkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) Juni 2026, batu bara dengan rentang kalori 4.100-5.300 kcal/kg GAR diperdagangkan pada kisaran US$60-US$88 per ton.
Perbedaan tersebut, kata dia, membuat perusahaan tambang melepas potensi pendapatan apabila dibandingkan dengan penjualan ke pasar.
"Jadi setiap ton yang dijual ke PLN, penambang melepas sekitar US$25-US$50 dibanding bila dijual ke pasar. Dengan alokasi DMO ke PLN pasti sudah besar sekali," ujarnya.
Selain menyoroti aspek harga, Andry juga menilai kebijakan pemenuhan kebutuhan domestik batu bara perlu selaras dengan penetapan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan tambang.
Menurut dia, pasokan batu bara kalori menengah di pasar domestik turut dipengaruhi oleh kebijakan kuota produksi yang ditetapkan pemerintah.
Baca Juga: ESDM Tegaskan Harga DMO Batu Bara Tetap US$70 per Ton, Belum Berubah Tahun Ini
Baca Juga: Bahlil Ungkap 3 Penyebab Listrik Padam Bergilir di Jawa, PLTU hingga Batu Bara Disorot
"Kelangkaan batubara kalori menengah sebagian disebabkan oleh pemangkasan kuota RKAB," katanya.
Andry menilai kewajiban DMO perlu diimbangi dengan penetapan kuota produksi yang sesuai agar kebutuhan pasar domestik dapat terpenuhi.
"Penetapan volume dan persetujuan kuota jangan saling bertabrakan, karena hasilnya adalah kekurangan kontrak seperti yang terjadi sekarang," lanjutnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: