Kredit Foto: Ist
Rencana penawaran umum perdana saham (IPO) PT RANS Entertainmen Indonesia Tbk (RANS) menjadi perbincangan di kalangan investor setelah perseroan menawarkan sebanyak 2,525 miliar saham atau setara 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor penuh pasca-IPO. Angka tersebut dinilai berada di bawah ketentuan minimum saham beredar di publik (free float) sebesar 25% untuk perusahaan dengan kapitalisasi pasar di bawah Rp5 triliun.
Perdebatan itu mencuat di media sosial Threads setelah akun @wasjiher mempertanyakan kesesuaian struktur IPO RANS dengan aturan terbaru Bursa Efek Indonesia (BEI). Unggahan tersebut viral dengan hampir 1.000 kali dibagikan, lebih dari 3.000 tanda suka, dan sekitar 675 balasan hingga Rabu (24/6/2026) pukul 14.47 WIB.
“Gue bingung deh guys, RANS kan mau IPO di harga 135-170 dengan 25.250.000 lembar saham. Artinya kan market cap-nya sekitar 1,7T-2,14T. Nah kok bisa free floatnya cuma 20%? Kalo baca di aturan baru minimal free float 25% buat market cap di bawah 5T. Ada yang gue miss apa gimana? Ada yang paham?” tulis akun tersebut.
Prospektus ringkas RANS menyebut perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 2,525 miliar saham baru dengan kisaran harga Rp135-Rp170 per saham. Jumlah saham yang ditawarkan tersebut setara 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Dengan rentang harga tersebut, kapitalisasi pasar RANS saat pencatatan diperkirakan berada di kisaran Rp1,7 triliun hingga Rp2,14 triliun. Berdasarkan perhitungan tersebut, perseroan masuk dalam kategori emiten dengan kapitalisasi pasar di bawah Rp5 triliun.
Investor yang mempertanyakan struktur IPO RANS merujuk pada Surat Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00045/BEI/03-2026 tentang Perubahan Peraturan Nomor I-A mengenai Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat. Regulasi yang berlaku sejak 31 Maret 2026 itu mengatur perusahaan dengan kapitalisasi pasar di bawah Rp5 triliun wajib memiliki saham beredar di publik paling sedikit 25%.
Sementara itu, dalam prospektus ringkas yang diterbitkan pada 23 Juni 2026, RANS secara eksplisit menyebut porsi saham yang dilepas ke publik hanya sebesar 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Struktur kepemilikan pasca-IPO menunjukkan masyarakat akan memiliki 2,525 miliar saham atau 20,02%, sedangkan Raffi Farid Ahmad tetap menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 62,93%.
Baca Juga: Bedah Kinerja RANS Perusahaan Raffi Ahmad: Laba Turun, Pendapatan Melemah, IPO Tetap Jalan
Baca Juga: IPO RANS Bongkar Daftar Pemegang Saham, Ada Nama Kaesang dan Bos Danantara
Prospektus juga menyebut pencatatan saham RANS telah memperoleh Persetujuan Prinsip Pencatatan Efek dari BEI melalui surat Nomor S-06948/BEI.PP2/06-2026 tertanggal 12 Juni 2026. Namun hingga perdebatan tersebut mencuat, belum terdapat penjelasan resmi dari perseroan maupun BEI terkait kesesuaian porsi free float yang ditawarkan dengan ketentuan baru pencatatan saham.
RANS berencana mencatatkan sahamnya di BEI pada 10 Juli 2026. Perseroan menargetkan dana segar maksimal Rp429,25 miliar dari aksi korporasi tersebut. Dana hasil IPO antara lain akan digunakan untuk pelunasan sebagian utang bank, ekspansi usaha, pengembangan bisnis teknologi berbasis kecerdasan buatan, serta akuisisi perusahaan kosmetik.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri