Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bitcoin Jeblok ke Bawah US$60.000, Investor Ramai-Ramai Amankan Dana

        Bitcoin Jeblok ke Bawah US$60.000, Investor Ramai-Ramai Amankan Dana Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga Bitcoin kembali tertekan dan sempat jatuh ke bawah level psikologis US$60.000 pada perdagangan Rabu (25/6). Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin menyentuh level terendah harian US$59.435,75 sebelum kembali bergerak di kisaran US$61.565,81 pada perdagangan terbaru. Penurunan terjadi di tengah aksi investor mengamankan dana yang diikuti derasnya arus keluar dari produk exchange traded fund (ETF) berbasis Bitcoin.

        Mengutip GuruFocus, analis riset Deutsche Bank Marion Laboure mengatakan pembeli marjinal Bitcoin kini bukan lagi investor ritel, melainkan pengalokasi ETF dan kas perusahaan (corporate treasury). Pergeseran komposisi investor tersebut dinilai membuat pergerakan harga Bitcoin lebih sensitif terhadap aksi jual ketika investor institusi menarik dana atau mengalihkan investasinya ke aset lain.

        Deutsche Bank mencatat investor telah menarik lebih dari US$6 miliar dari ETF yang melacak Bitcoin. Arus keluar tersebut menjadi yang terpanjang sejak 2024, sementara sebagian modal beralih ke investasi bertema kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dibandingkan tetap berada di pasar kripto.

        Sentimen negatif juga datang dari Strategy Inc. (NASDAQ: MSTR) yang menjual 32 Bitcoin, menjadi penjualan pertama perusahaan sejak 2022. Meski jumlahnya relatif kecil dibandingkan total kepemilikan perusahaan, transaksi tersebut memicu perhatian pelaku pasar.

        Baca Juga: Bitcoin Turun ke US$64.000 Usai The Fed Tahan Suku Bunga, Investor Diminta Fokus pada Fundamental

        Baca Juga: Bitcoin Turun ke Level Terendah sejak April 2026 usai Iran-AS Kembali Memanas

        Deutsche Bank juga mencatat harga Bitcoin kini berada di bawah rata-rata harga akumulasi Strategy sebesar US$75.699 per Bitcoin. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa perusahaan-perusahaan yang menggunakan pembiayaan berbasis utang untuk membeli Bitcoin berpotensi menjadi penjual apabila tekanan harga berlanjut.

        Sementara itu, Kepala Strategi Global Galaxy Steve Kurtz mengatakan pelaku pasar kini menantikan perkembangan pembahasan Clarity Act di Amerika Serikat. Menurutnya, arah pasar kripto masih dipengaruhi arus dana investor institusi, ekspektasi makroekonomi, serta persaingan dengan sektor AI dalam memperebutkan alokasi modal.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Annisa Nurfitri
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: